PMI Manufaktur RI Cetak Rekor, Sri Mulyani Optimistis Ekonomi Pulih

Sejak Maret 2021, PMI Manufaktur Indonesia terus menguat.
Agatha Olivia Victoria
3 Mei 2021, 20:45
PMI Manufaktur, Sri Mulyani
ANTARA FOTO/Sigid Kurniawan/aww.
Pekerja memantau proses produksi tisu basah di PT The Univenus Cikupa, Tangerang, Banten, Rabu (11/11/2020).

IHS Markit merilis Purchasing Managers’ Index atau PMI Manufaktur Indonesia yang mencetak rekor pada April 2021. Menteri Keuangan Sri Mulyani mengatakan data ini menunjukkan arah pemulihan ekonomi domestik terus terlihat.

"Ini sejalan dengan menurunkan kasus Covid-19 di Indonesia didukung program vaksinasi secara nasional," kata Sri Mulyani dalam Konferensi Pers: Hasil Rapat Berkala II KSSK Tahun 2021, Selasa (3/5).

Sri Mulyani menyebutkan sejak Maret 2021 sejumlah indikator dini ekonomi memang sudah menuju ke arah perbaikan. PMI Manufaktur Tanah Air telah berada di zona ekspansi yakni 53,2 dan terus menguat ke 54,6 pada April.

Selain itu, dia menuturkan, kinerja ekspor terus membaik, inflasi terkendali pada level yang relatif rendah, sementara cadangan devisa masih tinggi yakni US$ 137,1 miliar setara dengan 10,1 bulan impor. Di sisi lain, vaksinasi berjalan cukup baik dengan jumlah dosis vaksin yang diberikan 20 juta per 30 April 2021.

Bendahara Negara menilai, momentum penguatan ekonomi domestik terutama ditopang oleh berlanjutnya kebijakan fiskal yang ekspansif dan countercyclical. Adapun target defisit pada APBN 2021 yakni 5,7% dari produk domestik bruto (PDB).

Adapun anggaran program pemulihan ekonomi nasional (PEN) 2021, meningkat lebih dari 20% dari tahun 2020 yaitu mencapai Rp 699,43 triliun. Anggaran tersebut berfokus pada penanganan pandemi, mendukung perlindungan sosial, bantuan UMKM dan dunia usaha, serta mendorong program sektoral strategis.

Sri Mulyani menjelaskan bahwa program PEN 2021 terus disempurnakan agar dapat berjalan lebih cepat, tepat sasaran, dan efektif mendorong perekonomian. "Sehingga bisa memulihkan daya beli masyarakat serta dunia usaha," katanya.

Maka dari itu, dia menyebutkan, peranan APBN menjadi sangat sentral dalam pemulihan ekonomi nasional yang tercermin dalam kinerja APBN kuartal I 2021. Realisasi belanja tercatat tumbuh 15,61% secara tahunan didorong kenaikan pengeluaran untuk pelaksanaan vaksinasi dan belanja untuk membantu pelaku usaha, serta akselerasi belanja modal untuk infrastruktur baik konektivitas dan infrastruktur dasar.

Belanja bantuan sosial juga meningkat pada triwulan pertama tahun ini jika dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Perkembangan itu menunjukan dukungan APBN bagi masyarakat dalam mendorong daya belinya di tengah Covid-19.

Di sisi lain, Sri Mulyani menjelaskan bahwa kinerja pendapatan negara terjaga tumbuh positif yang merupakan tanda pemulihan setelah tahun lalu terkontraksi sangat dalam. Dengan demikian, defisit APBN hingga Maret 2021 tercatat Rp 144,2 triliun atau 0,82% terhadap PDB.

Pagi tadi, IHS Markit melaporkan bahwa PMI Manufaktur Indonesia tercatat sebesar 54,6 pada April 2021. Nilai itu meningkat 1,4 poin dibandingkan bulan sebelumnya, sekaligus menjadi angka tertinggi sejak April 2011.

IHS Markit menyebutkan kenaikan ini menunjukkan kondisi bisnis di dalam negeri semakin menguat. Perusahaan memperoleh lonjakan permintaan baru, termasuk dari ekspor, sehingga mendorong peningkatan volume produksi. Meski begitu, perusahaan masih enggan untuk mengambil tenaga kerja baru.

Advertisement

 

Reporter: Agatha Olivia Victoria
Editor: Yuliawati
News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait