Lampaui Target, Pemerintah Gaet Utang Rp 34 Triliun Lewat Lelang SUN

Penawaran lelang surat utang negara atau SUN dipengaruhi penurunan imbal hasil alias yield obligasi Amerika Serikat dan penguatan nilai tukar rupiah.
Agatha Olivia Victoria
8 Juni 2021, 17:37
SUN, utang,
ANTARA FOTO/Aditya Pradana Putra
Petugas menata tumpukan uang di Cash Pooling Bank Mandiri, Jakarta, Kamis (28/11/2019).

Pemerintah meraup Rp 34 triliun dari pelaksanaan lelang tujuh seri surat utang negara (SUN) pada Selasa (8/6). Nominal tersebut melewati target indikatif Rp 30 triliun.

Direktur Surat Utang Direktorat Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko Kementerian Keuangan Deni Ridwan menyampaikan, penguatan permintaan SUN di pasar perdana masih berlanjut pada lelang hari ini. "Perkembangan itu didukung oleh kondisi pasar global dan domestik," kata Deni kepada Katadata.co.id, hari ini.

Deni berpendapat kecenderungan penurunan imbal hasil alias yield obligasi Amerika Serikat dan penguatan nilai tukar rupiah menjadi sentimen positif yang memengaruhi penawaran pada lelang kali ini. Dia menilai investor tertarik karena kondisi likuiditas perbankan domestik yang masih sangat berlimpah dan penurunan premi risiko investasi (credit default swap/CDS) lima tahun dibandingkan dengan level lelang sebelumnya.

Dirinya menyebutkan, total penawaran lelang tujuh seri tersebut yakni mencapai Rp 78,46 triliun. "Jumlah ini meningkat dibandingkan penawaran pada lelang SUN sebelumnya yang sebesar Rp 78,16 triliun," ujarnya.

Advertisement

Adapun partisipasi investor asing meningkat signifikan pada lelang hari ini, mencapai 19,13% apabila dibandingkan dengan lelang SUN sebelumnya yang sebesar 14,89% dari total penawaran masuk. Menurut dia, fokus penawaran investor asing berada pada tenor lima dan 10 tahun, yang mencakup 88,6% dari total partisipasi asing pada lelang ini.

Hal tersebut, sambung dia, juga sejalan dengan preferensi dari investor domestik. Dengan demikian, proporsi penawaran dari seluruh investor pada tenor lima dan 10 tahun mencapai 69,04% dari total penawaran di lelang SUN hari ini.

Secara umum, Deni menilai bahwa terdapat penurunan yield rata-rata tertimbang yang dimenangkan (weigthed average yield/WAY) obligasi negara sebesar 2-9 basis poin dibandingkan lelang sebelumnya. Penurunan WAY tertinggi berada pada SUN dengan tenor lima tahun dengan penawaran masuk yang cukup tinggi sebesar Rp 20,42 triliun.

Pertimbangan pemerintah memenangkan permintaan Rp 34 triliun terkait rencana kebutuhan pembiayaan 2021. Selain itu, yield surat berharga negara (SBN) yang wajar di pasar sekunder, serta pemenuhan suplai SUN dari pasar perdana. "Dengan jumlah SUN yang dimenangkan tersebut, pemerintah tidak memerlukan penyelenggaraan lelang SUN tambahan," katanya.

Sebelumnya, Wealth Management Head Bank OCBC NISP Juky Mariska menyampaikan, prospek pasar obligasi Indonesia masih akan menarik dengan imbal hasil riil alias real yield yang cukup tinggi. Kondisi tersebut diharapkan mampu mendorong kembali masuknya arus modal asing ke SUN.



Sepanjang April 2021, pasar obligasi terlihat lebih bergairah, tercermin dari pergerakan imbal hasil obligasi pemerintah tenor 10 tahun yang mengalami penurunan sebanyak -4,46%. Hal tersebut dipengaruhi penurunan imbal hasil obligasi AS -3,9%. “Meredanya kekhawatiran akan pengetatan kebijakan moneter AS menjadi salah satu faktor yang mendorong kenaikan harga obligasi domestik,” kata Mariska dalam Monthly Outlook Mei 2021.

Mariska memperkirakan, imbal hasil obligasi pemerintah 10 tahun diperkirakan akan berada di kisaran 6,25%-6,5% untuk jangka menengah. Hal tersebut sejalan dengan pemulihan ekonomi global yang terus berjalan didukung stimulus ekonomi dan tren suku bunga rendah.

Selain itu, aktivitas manufaktur dan jasa mengalami ekspansi. Meskipun, data ketenagakerjaan AS melemah dengan angka pengangguran naik ke 6,1%. Namun, hal itu direspon positif oleh pelaku pasar dengan harapan pelonggaran stimulus tetap dipertahankan untuk menjaga momentum pemulihan ekonomi.

Reporter: Agatha Olivia Victoria
Editor: Yuliawati
News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait