Sri Mulyani Sebut Perlu Waspada Covid-19 Meski Vaksinasi Tinggi

Bank Dunia menargetkan minimal 40% populasi dunia pada akhir tahun sudah divaksinasi di semua negara.
Image title
25 Oktober 2021, 13:05
Sri Mulyani, vaksin
Katadata
Menteri Keuangan Sri Mulyani.

Kasus Covid-19 global mulai menurun, tapi  beberapa negara yang sebelumnya sukses mengendalikan penyebaran masih menghadapi lonjakan kasus. Menteri Keuangan Sri Mulyani menyebut Indonesia masih perlu waspada karena negara-negara yang memiliki tingkat vaksinasi tinggi pun mengalami kesulitan menghadapi pandemi.

"Seluruh negara yang menghadapi varian Delta tidak selau efektif dalam relatif waktu cepat bisa menurunkan dan mengendalikan kembali meski dengan jumlah vaksinasi besar, seperti negara-negara di Eropa, Amerika Serikat dan Cina," kata Sri Mulyani dalam Konferensi Pers APBN Kita Edisi Oktober, Senin (25/10).

Berdasarkan data Worldometer, jumlah kasus harian global terus turun sejak mencapai puncaknya pada awal Agustus lalu. Pada Minggu (24/10), terdapat tambahan 320.232 kasus baru yang merupakan rekor terendah sejak 28 Juni 2021.

Beberapa negara yang masih mencatatkan kasus tinggi seperti Inggris sebanyak 39.962, Rusia sebanyak (35.660), Turki (24.792), Ukraina (17.580) dan Amerika Serikat (17.580). Kasus harian di Amerika mulai turun setelah pekan lalu terus berada di atas 80 ribu per hari.

Sri Mulyani menyebut kasus Covid-19 domestik terus membaik. Pada Minggu, 24 Oktober hanya bertambah 623 kasus positif baru yang merupakan rekor terendah sejak Juni 2020.

Dia menyebut protokol kesehatan dan kebijakan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) berhasil menurunnya kasus harian.

"Penurunan kasus harian ini dikuti rendahnya kasus aktif total di masyarakat, turunnya kematian harian, turunnya bed-occupancy dan positivity rate, ini semua hal luar biasa bagus," ujarnya.

Ia juga mengatakan Indonesia berada di peringkat enam dunia sebagai negara dengan tingkat vaksinasi tertinggi, yakni sebanyak 180,54 juta dosis hingga 23 Oktober. Pencapaian ini terdiri atas 112,27 juta dosis pertama dan 67,17 juta untuk suntikan dosis kedua, serta 1,10 juta suntikan booster.

RI hanya berada di bawah Cina sebanyak 2,2 juta dosis, yang terdiri atas dosis pertama dan kedua. Kemudian India sebanyak 1 miliar dosis, AS sebanyak 411 juta dosis, Brazil 263 juta dosis, serta Jepang 183 juta dosis.



Pertemuan Bank Dunia dan Dana Moneter Internasional (IMF) yang digelar belum lama ini juga turut membahas percepatan vaksinasi. Dua lembaga keuangan tersebut turut mendesak agar sejumlah negara kaya dengan tingkat vaksinasi yang cepat mulai membantu negara-negara berkembang dan miskin yang masih kesulitan mendapat vaksin.

"Dalam pertemuan tahunan Bank Dunia diharapkan akhir tahun minimal 40% populasi dunia sudah divaksinasi di semua negara dan pada kuartal pertama 2022 diharap 70% sehinga herd immunity bisa terjadi," kata Sri Mulyani.

Bank Dunia dan IMF belum lama ini terus menyoroti pemulihan ekonomi dunia yang tidak berjalan merata. Kondisi tersebut dipengaruhi akses vaksinasi yang timpang antara negara kaya dengan negara berkembang dan miskin yang memiliki akses vaksinasi terbatas.

IMF memperkirakan ekonomi negara berkembang dan miskin bahkan belum bisa kembali ke level normal sampai 2024. Sedangkan negara maju diprediksi sudah melampaui level pra-pandemi mulai tahun depan.

 

Reporter: Abdul Azis Said
Editor: Yuliawati

Masyarakat dapat mencegah penyebaran virus corona dengan menerapkan 3M, yaitu: memakai masker, mencuci tangan, menjaga jarak sekaligus menjauhi kerumunan. Klik di sini untuk info selengkapnya.
#satgascovid19 #ingatpesanibu #pakaimasker #jagajarak #cucitangan

News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait