Di Usia 43 Tahun, Kartika Jadi Bos Baru Bank Mandiri

Kartika akan membawa Bank Mandiri ke kancah internasional. Saat ini, dia berupaya mendapatkan lisense pembukaan cabang Bank Mandiri di Malaysia dan Singapura.
Yura Syahrul
21 Maret 2016, 19:04
Gedung Bank Mandiri
Arief Kamaludin|KATADATA
Gedung Bank Mandiri

KATADATA - Pemerintah sebagai pemegang saham terbesar PT Bank Mandiri Tbk menunjuk Kartika Wirjoatmodjo sebagai Direktur Utama yang baru menggantikan Budi Gunadi Sadikin. Penunjukan tersebut dikukuhkan melalui Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) Bank Mandiri, Senin sore ini (21/3).

Kartika menjadi nakhoda bank terbesar di Indonesia ini dengan aset Rp 910,1 triliun per akhir Desember 2015, pada usia 43 tahun. Pria kelahiran Surabaya, 18 Juli 1973 silam ini pun merupakan direktur utama bank BUMN termuda saat ini. Sekadar informasi, Direktur Utama Bank Rakyat Indonesia (BRI) Asmawi Syam saat ini berusia 58 tahun. Sedangkan Direktur Utama Bank Negara Indonesia (BNI) Achmad Baiquni berusia 60 tahun dan Direktur Utama Bank Tabungan Negara (BTN) berusia 61 tahun.

Sinyal penunjukan Kartika sebagai bos baru Bank Mandiri telah dihembuskan sebelumnya oleh Budi Gunadi. Melalui akun Twitter-nya, Minggu malam, Budi mencuit pesan: 2 perusahaan besar, besok akan mengumumkan pergantian CEO mereka. Dan kabarnya pengganti mereka muda-muda, bahkan sama usianya #genY. Selain Kartika, sebelumnya sempat beredar beberapa nama lain sebagai pengganti Budi. Di internal Bank Mandiri, ada nama Direktur Treasury and Market Bank Mandiri Pahala N. Mansury dan Direktur Corporate Royke Tumilaar. Sedangkan dari luar Bank Mandiri, berhembus nama Asmawi Syam dan Maryono.

(Baca: Pemerintah dan Bank Berebut Dana Masyarakat Picu Likuiditas Ketat)

Advertisement

Kartika sebelumnya menjabat sebagai Direktur of Finance and Strategy Bank Mandiri. Ia juga sempat mengemban jabatan sebagai Kepala Eksekutif Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) sejak 2013 hingga tahun lalu. Kala itu, LPS sempat sukses menjual Bank Mutiara (eks Bank Century) kepada investor asal Jepang. Meski nilai penjualannya masih di bawah dana talangan (bailout) pemerintah untuk menyelamatkan bank tersebut akhir 2008 silam.

(Baca: Berebut Dana dengan Pemerintah, BI Nilai Likuiditas Bank Cukup)

Tiko, panggilan akrabnya juga pernah menduduki jabatan CEO Indonesia Infrastructure Finance (IIF) pada 2011-2013. Selain itu, menjadi Managing Director Mandiri Sekuritas pada 2008-2011.

Setelah ditunjuk menjadi bos baru Bank Mandiri, Kartika mengatakan akan membawa bank tersebut ke kancah internasional. Saat ini, dia berupaya mendapatkan lisense dari bank sentral Malaysia dan Singapura untuk menambah cabang baru di dua negara jiran tersebut. "Itu dua strategi yamg bisa kami jalankan secara pararel," katanya seusai RUPSLB.

(Baca: Dana Cina, Grup Sinar Mas Peminjam Terbesar Tiga Bank Pemerintah)

Dia optimistis kedua rencana tersebut bisa berjalan. Dari struktur permodalan misalnya, saat ini modal Bank Mandiri sebesar Rp 120 triliun. Dengan revaluasi aset, Iko yakin akan ada tambahan Rp 27 triliun. Maka permodalan Bank Mandiri bisa mencapai Rp 138 triliun hingga Rp 140 triliun atau setara US$ 10 miliar. Dengan begitu, rasio kecukupan modal (Capital Adequacy Ratio/CAR) Bank Mandiri bisa mencapai 20 persen.

Reporter: Desy Setyowati
News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait