Pilihan ini sebagai jalan kompromi dari berbagai kepentingan yang ada.
Elia Manik
Direktur Utama PTPN III Holding Perkebunan, Elia Masa Manik (tengah), bersama para direksi PTPN III di Jakarta, Senin (19/12/2016). ANTARA FOTO/Audy Alwi

Jika tidak ada perubahan penting, pemerintah hampir dipastikan menunjuk Elia Massa Manik sebagai Direktur Utama PT Pertamina (Persero) yang baru. Ia menggantikan posisi Dwi Soetjipto yang diberhentikan Kementerian BUMN pada Januari lalu. Rencananya, pelantikan dirut baru Pertamina tersebut akan dilakukan dalam pekan ini.

Berdasarkan informasi yang dihimpun Katadata, Presiden Joko Widodo (Jokowi) sudah menyetujui penunjukan Elia sebagai Dirut Pertamina yang baru. Elia menyisihkan setidaknya tujuh calon lain yang diajukan kepada Presiden di tengah tarik-menarik kepentingan berbagai pihak.

Sejak dua pekan lalu, Presiden sebenarnya sudah menerima pengajuan tujuh nama calon Dirut Pertamina, baik yang berasal dari internal maupun luar perusahaan. Tiga calon dari internal Pertamina disebut-sebut antara lain mantan Wakil Direktur Utama Pertamina Ahmad Bambang, Direktur Megaproyek Pengolahan dan Petrokimia Rahmad Hardadi dan Direktur Hulu yakni Syamsu Alam.

Adapun, para kandidat dari luar Pertamina yang disorongkan ke Presiden antara lain Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Arcandra Tahar dan Dirut PTPN III Holding sekaligus mantan Dirut PT Elnusa Tbk, Elia Massa Manik. Ada pula Direktur Utama PT PLN (Persero) Sofyan Basir dan mantan Dirut PT Bank Mandiri Tbk yang saat ini menjadi Staf Khusus Menteri BUMN, Budi Gunadi Sadikin.

(Baca: Ada 7 Nama, Jokowi Pelajari Calon Dirut Pertamina dari Eksternal)

 "Mereka merupakan calon yang diajukan oleh berbagai pihak, yaitu Menteri BUMN (Rini Soemarno), Menteri ESDM (Ignasius Jonan), dan Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman (Luhut Binsar Pandjaitan)," kata sumber Katadata, Selasa (14/3). 

Belakangan, menurut sumber itu, kandidat calon mengerucut kepada dua nama yaitu Elia dan Arcandra. "Ini kompromi dari berbagai kubu kepentingan," katanya. Peluang Arcandra sempat menguat karena dinilai memiliki kemampuan teknis di bidang minyak dan gas bumi yang kuat sehingga diharapkan mampu meningkatkan kinerja Pertamina. 

Namun, pada awal pekan ini, Presiden akhirnya menjatuhkan pilihan kepada Elia Massa Manik. Pilihan ini sebagai jalan kompromi dari berbagai kepentingan yang ada. Apalagi, Elia bukan berasal dari lingkungan Pertamina.

(Baca: Tersangkut Kontrak dengan Pertamina, Arcandra Diadukan ke KPK)

Karier Elia mulai mencorong ketika menjadi Direktur Utama PT Elnusa Tbk pada Juni 2011 hingga Mei 2014. Ia berhasil menyehatkan perusahaan jasa migas tersebut. Lewat restrukturisasi usaha, dari posisi merugi sekitar Rp 42,775 miliar pada tahun 2011 Elnusa menjadi untung sebesar Rp 123,6 miliar setahun kemudian. Di pengujung masa jabatan Elia, Elnusa meraup laba bersih Rp 178,2 miliar pada semester I-2014.

(Baca: Perpanjangan Jabatan Plt Dirut Pertamina Dinilai Langgar Aturan)

Kini, Elia menjabat Direktur Utama PT Perkebunan Nusantara (PTPN) III. PTPN III sekarang menjadi induk usaha atau holding dari 14 perusahaan BUMN di sektor perkebunan. Ia pun telah merestrukturisasi belasan PTPN tersebut.