"Selama ini neraca dagang kita dengan AS positif. Kami mendorong mereka agar tertarik berinvestasi di sektor industri pembangkit listrik, kemudian industri digital, dan industri consumer product"
Menteri Perindustriann Airlangga Hartarto
ANTARA FOTO/Wahyu Putro A

Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto berharap kunjungan kenegaraan Wakil Presiden Amerika Serikat (AS), Michael Richard Pence ke Indonesia bisa bebuah investasi. Selain itu ia berharap hubungan bilateral khususnya di sektor perekonomian dapat terus diperkuat, termasuk perdagangan kedua negara.

"Selama ini neraca dagang kita dengan AS positif. Kami mendorong mereka agar tertarik berinvestasi di sektor industri pembangkit listrik, kemudian industri digital, dan industri consumer product," katanya usai menjadi pembicara dalam The Economist Event, Kamis (20/4). 

Anda Belum Menyetujui Syarat & Ketentuan
Email sudah ada dalam sistem kami, silakan coba dengan email yang lainnya.
Alamat email Anda telah terdaftar
Terimakasih Anda Telah Subscribe Newsletter KATADATA
Maaf Telah terjadi kesalahan pada sistem kami. Silahkan coba beberapa saat lagi
Silahkan mengisi alamat email
Silahkan mengisi alamat email dengan benar
Masukkan kode pengaman dengan benar
Silahkan mengisi captcha

Airlangga mengatakan sektor-sektor yang cukup berkembang di Indonesia, seperti industri digital dan consumer product seharusnya dapat lebih ditingkatkan. Caranya adalah dengan menjalin kerja sama yang lebih baik dengan AS, mengingat negara ini dinilai sangat unggul dalam sektor tersebut. Selain itu, Indonesia masih membutuhkan transfer teknologi dari negeri Paman Sam. Dia juga ingin mendorong perdagangan yang saling melengkapi dengan AS.

(Baca: Temui Jokowi, Wapres Amerika Minta Tak Ada Hambatan Ekspor)

Menurutnya Pemerintah Indonesia telah menunjukkan kesungguhannya dalam menarik investasi. Beberapa kawasan industri di Indonesia telah siap diisi oleh investor dan didukung dengan fasilitas penunjang seperti pelabuhan dan infrastruktur lainnya. Misalnya, Kawasan Industri Sei Mangkei, Sumatera Utara yang difokuskan pada pengembangan oleokimia.

Selain itu, Kawasan Industri Dumai, Riau dan Kawasan Industri Berau, Kalimantan Timur yang akan dibangun menjadi Palm Oil Green Economic Zone (POGEZ), serta Kawasan Industri Morowali, Sulawesi Tengah dan Kawasan Industri Konawe, Sulawesi Tenggara yang menjadi pusat pengembangan industri smelter berbasis nikel.

Pemerintah juga tengah mendorong percepatan pembangunan kawasan industri di Tanjung Buton, Tanah Kuning, Gresik, Kendal, dan Serang. Kemenperin mencatat, hingga saat ini, sebanyak 73 kawasan industri yang telah beroperasi di seluruh Indonesia.

Pembangunan infrastruktur merupakan kunci untuk meningkatkan konektivitas serta mampu mengerek produktivitas industri di dalam negeri. “Pemerintah menyadari bahwa infrastruktur merupakan faktor yang dapat meningkatkan langsung konektivitas. Sekarang kami sedang bangun jalan, pelabuhan, dan fasilitas lain yang dampaknya mungkin terasa di tahun 2019,” katanya.

Sebelumnya, dalam pertemuan dengan Duta Besar Amerika Serikat untuk Indonesia Joseph R. Donovan Jr pada Februari lalu, Airlangga meminta investor AS dapat terus berkontribusi menanamkan modalnya di Indonesia. Terutama untuk memenuhi beberapa kawasan industri yang telah tersedia.

(Baca: Soal Freeport, Luhut: Wapres Amerika Puas dengan Penjelasan Jokowi)

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), neraca perdagangan Indonesia dengan Amerika Serikat memang selalu mencatat surplus. Pada 2016, Indonesia mencatat surplus sebesar US$ 8,5 miliar. Adapun, nilai ekspor ke Negeri Paman Sam pada 2016 mencapai US$ 15,68 miliar senilai Rp 208,6 triliun, tumbuh 2,46 persen dari tahun sebelumnya. Bahkan, sejak 2010 nilai impor dari Amerika terus menurun sehingga menambah surplus bagi Indonesia.

Adapun kelompok hasil industri yang juga memiliki nilai ekspor dengan tren positif, antara lain industri pengolahan kelapa sawit, furniture, pulp dan kertas, barang-barang kerajinan, elektronika, serta pengolahan alumunium.

Artikel Terkait
Kedatangan mantan orang nomor satu Amerika Serikat ini tidak akan mengganggu jadwal penerbangan lainnya.
"Bahwa pertumbuhan di kuartal II mungkin agak sedikit lebih rendah," kata Agus D.W. Martowardojo.
“Bisa dikompensasikan dengan macam-macam, misalnya tax holiday,"