“Ketiganya berhenti operasinya karena alasan keekonomian perusahaan,” kata Direktur Jenderal Minerba, Bambang Gatot.
Pabrik baja
Arief Kamaludin | Katadata

Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mencatat ada tiga pabrik pengolahan dan pemurnian (smelter) yang berhenti beroperasi. Penyebabnya adalah masalah ekonomi yang dialami oleh perusahaan.

Direktur Jenderal Mineral dan Batubara (Minerba) Kementerian ESDM Bambang Gatot Ariyono mengatakan tiga perusahaan itu adalah PT Indoferro dan PT Bintang Timur Steel di Cilegon, serta PT Cahaya Modern Metal Industri di Sulawesi Tenggara. “Ketiganya berhenti operasinya karena alasan keekonomian perusahaan,” kata dia di Kementerian ESDM, Jakarta, Rabu (9/8).

Anda Belum Menyetujui Syarat & Ketentuan
Email sudah ada dalam sistem kami, silakan coba dengan email yang lainnya.
Alamat email Anda telah terdaftar
Terimakasih Anda Telah Subscribe Newsletter KATADATA
Maaf Telah terjadi kesalahan pada sistem kami. Silahkan coba beberapa saat lagi
Silahkan mengisi alamat email
Silahkan mengisi alamat email dengan benar
Masukkan kode pengaman dengan benar
Silahkan mengisi captcha

(Baca: Kementerian ESDM Bantah Smelter Nikel Rugi Akibat Aturan)

Salah satu perusahaan mengalami masalah ekonomi akibat pengoperasian peleburan nikel dengan menggunakan teknologi blast furnace. Teknologi tersebut sangat dipengaruhi oleh harga bahan baku, salah satunya adalah kokas.

Harga kokas, yang memiliki porsi 40% dari total biaya produksi, meningkat menjadi sekitar US$ 200 hingga US$ 300 per ton sejak akhir 2016. Padahal harga pada 2015 rata-rata hanya US$ 100 per ton. “Hal inilah yang menjadi penyebab terhentinya kegiatan produksi PT Cahaya Modern Metal Industri,” ujar Bambang.

Sementara, operasi PT Indoferro dan PT Bintang Timur Steel sejak awal tidak di desain untuk memurnikan bijih nikel sehingga tingkat keekonomiannya akan berbeda dengan desain awal. PT Indoferro semula memurnikan bijih besi sedangkan PT Bintang Timur Steel semula memurnikan bijih mangan.

(Baca: Vale Gagal Dapat Mitra Bangun Smelter Di Sulawesi)

PT Indoferro yang memiliki kapasitas output 200.000 ton per tahun berhenti berproduksi sejak 19 Juli 2017. Adapun PT Bintang Timur Steel yang berkapasitas produksi 37.440 ton per tahun sejak selesai dibangun pada Juli 2015 belum beroperasi secara lanjut.  

Dengan berhenti beroperasinya ketiga smelter tersebut, tersisa 10 lagi pabrik pengolahan. Sepuluh smelter nikel ini beroperasi dengan total produksi 1.468.596 ton per tahun. Namun, nantinya akan ada  13 smelter nikel lainnya yang saat ini dalam tahap konstruksi dengan total kapasitas mencapai 1.853.000 ton per tahun.

Selama semester I tahun 2017 ini sudah ada dua smelter baru yang terbangun. Targetnya hingga akhir tahun ada empat smelter yang harus terbangun.

(Baca: 23 Smelter Nikel Terancam Tutup Akibat Kebijakan Ekspor Mineral)

Di sisi lain realisasi ekspor nikel (ore) selama enam bulan pertama tahun ini baru mencapai 403 ribu ton, dari rekomendasi ekspor sebesar 8,16 juta ton. "Ekspor ore itu diberikan untuk mengetahui dan memberikan insentif kepada yang serius membangun smelter. Karena kalau dia tidak memenuhi progress, rekomendasi ekspornya dicabut. Siapa yang serius, sesuai kapasitas smelter dia akan dapat diberikan ijin ekspor,” kata Bambang.

Artikel Terkait
Meski saat ini menjabat Sekretaris Jenderal, Ego masih merangkap sebagai dirjen migas. Rangkap jabatan dilakukan sampai dirjen migas definitif terpilih.
“Kementerian ESDM dan Pertamina sudah mengantisipasi kalau seandainya pasokan ini kurang, akan ditambah untuk memenuhi kebutuhan,” kata Arcandra.
Wakil Menteri ESDM Arcandra Tahar berharap, SDM yang ada bisa menjadi andalan, minimal di tingkat nasional dan Asia Tenggara (ASEAN).