Meski jumlah perusahaan yang mengalami rugi berkurang, total nilai laba yang dihasilkan 118 BUMN ternyata lebih rendah dibandingkan semester I tahun lalu.
Gedung Kementerian BUMN
Arief Kamaludin|KATADATA

Kementerian Badan Usaha Milik Negara (BUMN) mencatat masih ada 24 perusahaan pelat merah yang mengalami kerugian sepanjang semester I tahun ini. Ada 9 perusahaan diantaranya yang dianggap sakit, sehingga perlu direstrukturisasi di bawah kedeputian di kementerian tersebut.

Deputi Bidang Restrukturisasi dan Pengembangan Usaha Kementerian BUMN Aloysius Kiik Ro mengatakan salah satu perusahaan yang masih mengalami rugi adalah PT. Garuda Indonesia (Persero) Tbk. Untuk BUMN sakit, dirinya menjelaskan hal ini lantaran kesalahan pengelolaan manajemen sejak lama.

Anda Belum Menyetujui Syarat & Ketentuan
Email sudah ada dalam sistem kami, silakan coba dengan email yang lainnya.
Alamat email Anda telah terdaftar
Terimakasih Anda Telah Subscribe Newsletter KATADATA
Maaf Telah terjadi kesalahan pada sistem kami. Silahkan coba beberapa saat lagi
Silahkan mengisi alamat email
Silahkan mengisi alamat email dengan benar
Masukkan kode pengaman dengan benar
Silahkan mengisi captcha

"Yang di bawah kami (direstrukturisasi karena sakit) antara lain Merpati, Kertas Leces, serta PT Iglas," kata Aloysius di kantornya, Jakarta, Selasa (29/8). (Baca: Modal Susut 29%, Garuda Minta Keringanan Syarat Utang US$ 500 Juta)

Sedangkan Sekretaris Kementerian BUMN Imam A. Poetro mengatakan jumlah BUMN yang merugi tahun ini berkurang tiga perusahaan dibandingkan tahun lalu. Imam menyebut BUMN yang dapat keluar dari kerugian adalah PT Djakarta Lloyd (Persero), PT Nindya Karya (Persero), serta PT Varuna Tirta Prakasya (Persero).

"Sebelumnya kan ada 27 totalnya," kata Imam.

Meski jumlah perusahaan yang mengalami rugi berkurang, total nilai laba yang dihasilkan 118 BUMN tahun ini ternyata lebih rendah dibandingkan semester I tahun lalu. Imam menjelaskan pada semester I tahun ini, jumlah laba yang dicetak BUMN hanya Rp 87 triliun atau turun 1% dari periode yang sama 2016.

Imam beralasan laba BUMN terpapas besarnya modal kerja dan modal operasional pada tahun ini. Dia menjelaskan dari sisi capital expenditure perusahaan negara tersebut mencapai Rp 111 triliun atau naik Rp 40 triliun dari semester I 2016. Sedangkan untuk operational expenditure BUMN tengah tahun pertama 2017 mencapai Rp 788 triliun dari periode yang sama 2016 sebesar Rp 650 triliun.

"Untuk capexnya kami untuk bangun pembangkit listrik, infrastruktur migas, hingga telekomunikasi," katanya. (Baca: Rini Pastikan Hanya 3 Anak Usaha BUMN yang Melantai di Bursa 2017)

Ada pun beberapa BUMN yang masuk dalam daftar rugi selain Garuda antara lain Perum Bulog, PT Indofarma (Persero) Tbk., PT Aneka Tambang (Persero) Tbk., PT Krakatau Steel (Persero) Tbk., PT Dirgantara Indonesia (Persero), PT Danareksa (Persero), hingga PT PAL Indonesia (Persero).

Artikel Terkait
Pembentukan korporasi petani sesuai kemauan Presiden Joko Widodo (Jokowi).
"Kami coba minta persetujuan Kementerian Kelautan dan Perikanan, kalau bisa sisa garam impor akan kami distribusikan ke industri yang memiliki pengolah," kata Dolly
Kementerian BUMN menjelaskan perusahaan pelat merah membutuhkan proses untuk mengubah Penyertaan Modal Negara menjadi laba.