Ernst & Young akan membantu memoles portofolio startup agar lebih memikat bagi para calon investor.
Rudiantara
Menkominfo Rudiantara saat pembukaan Indonesia E-Commerce Expo di Indonesia Convention Exibation (ICE), Serpong, Tangerang, Banten, Selasa (9/5). ANTARA FOTO/Muhammad Iqbal

Pemerintah akan membantu perusahaan digital baru atau startup untuk menjaring investasi asal luar negeri. Bekerja sama dengan Japan External Trade Organization (JETRO), pelaku e-commerce ditemukan dengan investor potensial.

"Kami ingin lebih serius menjaring investor di e-commerce," kata Menteri Komunikasi dan Informatika Rudiantara kepada wartawan usai mempresentasikan potensi digital Indonesia kepada pihak Jepang di Gedung Ayana MidPlaza, Jakarta, Selasa (12/9).

Anda Belum Menyetujui Syarat & Ketentuan
Email sudah ada dalam sistem kami, silakan coba dengan email yang lainnya.
Alamat email Anda telah terdaftar
Terimakasih Anda Telah Subscribe Newsletter KATADATA
Maaf Telah terjadi kesalahan pada sistem kami. Silahkan coba beberapa saat lagi
Silahkan mengisi alamat email
Silahkan mengisi alamat email dengan benar
Masukkan kode pengaman dengan benar
Silahkan mengisi captcha

Rudiantara menyatakan, saat ini telah terjadi pergeseran pola investasi dari industri konvensional ke ekonomi digital. Sehingga, metode pertemuan bisnis secara berkelompok akan menjaring investor lebih banyak.

(Baca juga:  Pertama di Indonesia, Fitur Jual-Beli Obligasi Online Bank Permata)

Proses pencarian dana ini dilakukan agar perkembangan ekonomi digital bisa memenuhi target Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 74 Tahun 2017. Dalam Perpres tentang peta jalan e-commerce itu, pemerintah menargetkan transaksi perdagangan online mencapai US$ 130 miliar atau sekitar Rp 1.739 triliun pada 2020.

Oleh karena itu, program Next Indonesian Unicorn (NexICorn) digagas untuk memenuhi target. Rencananya, NexICorn bakal menjadi salah satu cara agar terlahir lebih banyak perusahaan e-commerce yang nilainya melampaui US$ 1 miliar atau unicorn.

Untuk memenuhi target itu, pemerintah juga mengajak Asosiasi Modal Ventura untuk Startup Indonesia (Amvesindo) agar mencatat perusahaan e-commerce yang punya potensi dan membutuhkan dana. Selain itu, Ernst & Young juga berperan untuk membantu meningkatkan profil perusahaan e-commerce agar lebih meyakinkan investor asing.

(Baca juga:  Setelah Kioson, E-commerce M-Cash Bersiap Masuk Bursa)

Dari proses seleksi keduanya, tercatat ada sekitar 40 perusahaan digital yang bakal dipertemukan dengan 50 orang investor asal Jepang. Menurut Rudiantara, ada 20 perusahaan dan 5 perusahaan pendanaan yang ikut NexICorn. JETRO memiliki andil untuk mendatangkan pengusaha-pengusaha Jepang yang tertarik untuk berinvestasi di Indonesia.

"Semuanya bekerja sama menjual potensi Indonesia. Semakin banyak investasi, pertumbuhan ekonomi digital semakin lebih baik," ujar Rudiantara.

Pihak Jepang juga menyambut baik langkah pemerintah. Alasannya, pertumbuhan ekonomi digital Indonesia menunjukkan tren positif. Presiden JETRO di Indonesia Daiki Kasugahara menjelaskan e-commerce yang bergerak di bidang financial technology (fintech) jadi salah satu incaran.

"Kami akan terus menindaklanjuti pertemuan ini. Kesempatan ini tidak boleh sia-sia," kata Kasugahara. (Baca juga: OJK Turunkan Batasan Aset IPO agar Startup Bisa Masuk Bursa)

Selain itu, Steven Vanada, Vice President di CyberAgent Ventures terus memperingatkan calon pengusaha Jepang yang ingin melakukan investasi di perusahaan digital Indonesia. Sebagai perwakilan perusahaan pendanaan, dia mengatakan undangan untuk datang adalah hal yang tepat.

"Kita tidak bisa bergantung pada berita dan data dari pihak ketiga. Kita harus datang supaya bisa melihat perspektif lokal cara perusahaan digital Indonesia melayani konsumennya," kata Steven.

Rencananya, program NexICorn bakal dilakukan lagi kepada pengusaha Tiongkok dan Amerika Serikat. Selain itu, kerja sama ini juga bakal tetap membuka peluang investasi untuk negara-negara lain. Langkah ini dilakukan karena masih banyak investor potensial yang belum mengetahui kondisi ekonomi digital di Indonesia.

Michael Reily
Artikel Terkait
Persyaratan equity crowdfunding diklaim tidak akan seketat proses Initial Public Offering.
"Kami membuat industri startup menghabiskan US$ 50 juta dan hasilnya nihil," kata CEO baru Indosat, Joy Wahyudi.
Ekonomi kreatif bakal menyumbang Rp 1.000 triliun untuk Produk Domestik Bruto 2017.