Sri Mulyani Proyeksi Pertumbuhan Ekonomi Semester I Minus 1,1%

Agatha Olivia Victoria
9 Juli 2020, 22:24
Ilustrasi, Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati. Sri Mulyani memperkirakan pertumbuhan ekonomi semester I 2020 bisa mencapai minus 1,1% karena tekanan ekonomi yang dialami pada kuartal II 2020.
ANTARA FOTO/Aditya Pradana Putra/wsj.
Ilustrasi, Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati. Sri Mulyani memperkirakan pertumbuhan ekonomi semester I 2020 bisa mencapai minus 1,1% karena tekanan ekonomi yang dialami pada kuartal II 2020.

Kementerian Keuangan (Kemenkeu) memperkirakan pertumbuhan ekonomi semester I 2020 terkontraksi minus 0,4% hingga 1,1%. Penyebabnya, karena tekanan pada perekonomian kuartal II 2020 kemungkinan lebih besar dibandingkan kuartal sebelumnya.

"Pada kuartal II 2020 kami perkirakan penurunan pertumbuhan ekonomi di titik minus 3,8%," ujar Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati, dalam rapat kerja bersama Badan Anggaran Dewan Perwakilan Rakyat (DPR), Kamis (9/7).

Tekanan pada perekonomian sepanjang kuartal II 2020 utamanya disebabkan karena, adanya pembatasan sosial di tingkat daerah secara masif untuk mengendalikan penyebaran virus corona atau Covid-19.

Kontraksi pertumbuhan ekonomi hingga minus 1,1% menurut Sri Mulyani sangat mungkin terjadi, mengingat pada kuartal I 2020 perekonomian sudah berada dalam tekanan. Sepanjang tiga bulan pertama tahun ini, pertumbuhan ekonomi tercatat hanya 2,97%, jauh di bawah pertumbuhan ekonomi yang biasanya dicapai Indonesia, di kisaran 5%.

Sejak kuartal I 2020, indikasi perlambatan ekonomi sudah terasa dari penurunan konsumsi masyarakat untuk sektor transportasi, restoran, dan hotel. Ditambah lagi, realisasi investasi juga rendah, terutama untuk jenis mesin, dan produk kekayaan intelektual.

Kendati demikian, perdagangan internasional masih bisa tumbuh positif pada kuartal I 2020. Hal ini didorong oleh pertumbuhan ekspor nonmigas, serta penurunan impor seiring pelemahan permintaan domestik.

(Baca: Stimulus Lambat, Kadin Proyeksi Ekonomi RI Minus 6% pada Kuartal II)

Sri Mulyani berharap, pada kuartal III 2020 akan ada pemulihan ekonomi, dan akan berimbas positif pada pertumbuhan ekonomi. Meski demikian, ia memprediksi laju pertumbuhan ekonomi masih terkontraksi di zona negatif, yakni minus 1,2% hingga minus 1,1%.

"Perubahan ke arah positif diharapkan terlihat pada kuartal IV 2020, di mana kami memproyeksi pertumbuhannya berada di kisaran 1,6-3,2%," ujarnya.

Menkeu pun optimistis program stimulus bantuan sosial (bansos) akan mendorong konsumsi masyarakat pada semester II 2020. Selain itu, konsumsi pemerintah juga akan meningkat, sejalan dengan realisasi belanja pemerintah pusat dan daerah.

Dari sisi investasi, ia memperkirakan akan tumbuh moderat seiring dengan membaiknya keyakinan investor. Kemudian, perdagangan internasional diprediksikan masih mengalami kontraksi karena masih rendahnya permintaan global.

Dengan demikian, perkiraan pertumbuhan ekonomi semester II 2020 akan berada pada level 0,3% hingga 2,2%. Secara keseluruhan, perekonomian akan tumbuh pada level minus 0,4% sampai 1% pada tahun ini.

"Pertumbuhan ekonomi 2020 diproyeksikan untuk dapat tumbuh positif dengan didukung program pemulihan ekonomi nasional," kata Sri Mulyani.

(Baca: Pertumbuhan Ekonomi Negara-negara di Asia Melambat)

Reporter: Agatha Olivia Victoria
News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait