Impor Makin Anjlok, Neraca Perdagangan Mei Surplus US$ 2,09 Miliar

Secara kumulatif Januari-Mei 2020, neraca perdagangan Indonesia tercatat surplus mencapai US$ 4,31 miliar.
Agatha Olivia Victoria
15 Juni 2020, 11:47
neraca dagang, ekspor impor, neraca perdagangan
Ajeng Dinar Ulfiana | KATADATA
Ilustrasi. BPS mencatat ekspor pada Mei 2020 turun 13,4% dibanding bulan sebelumnya menjadi US$ 10,53 miliar

Badan Pusat Statistik mencatat neraca perdagangan pada Mei 2020 surplus mencapai US$ 2,09 miliar. Ini  jauh membaik dibandingkan April yang tercatat defisit sebesar US$ 350 juta, maupun periode yang sama tahun lalu yang surplus US$ 207,6 juta. 

Adapun secara kumulatif Januari-Mei 2020, neraca perdagangan Indonesia tercatat surplus mencapai US$ 4,31 miliar.

Kendati demikian, Kepala BPS Suhariyanto menjelaskan surlus neraca dagang terjadi akibat impor yang anjlok cukup dalam mencapai 32,65% dibandingkan bulan sebelumnya menjadi US$ 8,44 miliar. Penurunan bahkan mencapai 42,2% dibandingkan periode yang sama tahun lalu. 

Sementara ekspor pada Mei 2020 juga turun 13,4% dibanding bulan sebelumnya menjadi US$ 10,53 miliar. Sementara dibandingkan periode yang sama tahun lalu, penurunannya lebih dalam mencapai 28,95%.

Advertisement

"Neraca perdagangan surplus memang menggembirakan, tapi kita perlu waspadai komponen didalamnya di mana ekspor kita turun 28,95% impor turun lebih dakam 42,2%," ujar Suhariyanto dalam konferensi video, Senin (15/6).

 

(Baca: Pemerintah Gencar Lelang SBN, Utang Luar Negeri RI Tembus Rp 6.065 T)

Suhariyanto menjelaskan, penurunan ekspor terjadi pada komoditas migas maupun nonmigas. Ekspor migas turun 15,64% dibanding April atau 42,64% dibanding periode yang sama tahun lalu menjadi US$ 650 juta. Sementara ekspor nonmigas turun 14,81% dibanding April atau 27,81% dibanding periode yang sama tahun sebelumnya menjadi US$ 9,88 miliar.

Sedangkan berdasarkan sektornya, ekspor pertanian pada Mei turun 16.97% dibanding bulan lalu. Ekspor industri pengolahan juga turun 14,92% dan pertambangan turun 13,7%. 

"Jika dibandingkan periode yang sama tahun lalu, pertambangan turun lebih dalam mencapai 38%,"jelas dia. 

(Baca: Dipengaruhi Penurunan Impor, Neraca Perdagangan Mei Diramal Surplus)

Penurunan impor yang tajam pada Mei terjadi pada komoditas migas dan nonmigas. Impor migas anjlok 22,26% dibanding April atau 37,34% dibanding periode yang sama tahun lalu menjadi US$ 660 juta. Sedangkan impor nonmigas turun 23,04% dibanding April dan anjlok 69,87% dibanding periode yang sama tahun lalu mencapai US% 7,78 miliar. 

"Impor turun sangat tajam. Ini tidak menggembirkaan. Impor barang modal terutama harus diperhatikan karena berpengaruh pada pertumbuhan ekonomi dari segi investasi," jelas dia. 

BPS mencatat impor barang modal anjlok 19,75% sepanjang Januari-Mei 2020 dibanding periode yang sama tahun lalu. Sementara impor bahan baku/penolong turun 15,28% dan barang konsumsi turun 10,32%.

Suhariyanto menekankan perkembangan perekonomian yang terjadi pada Mei ini masih sangat dipengaruhi oleh kondisi global yang buruk karena masih banyaknya pembatasan aktivitas. "Harga beberapa komoditas nonmigas juga turun, seperti batu bara turun 10,41% secara bulanan, mintak sawit dan kernel juga turun 5,75%," jelas dia. 

Editor: Agustiyanti
News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait