Rupiah Melemah Dekati 14.100/US$ Tertekan Defisit Neraca Pembayaran

Nilai tukar rupiah pagi ini melemah ke 14.098 per dolar AS tertekan data defisit neraca pembayaran kuartal IV 2020 yang dirilis akhir pekan lalu.
Agatha Olivia Victoria
22 Februari 2021, 10:05
rupiah, nilai tukar, dolar as, rupiah melemah
Adi Maulana Ibrahim |Katadata
ilustrasi. Kurs rupiah berpotensi menguat hari ini meski dibuka melemah.

Nilai tukar rupiah pada perdagangan di pasar spot pagi ini, Senin (22/2) melemah 0,03% ke level Rp 14.070 per dolar AS. Namun, rupiah berpotensi menguat seiring ekspektasi pemulihan ekonomi global.

Mengutip Bloomberg, rupiah kian bergerak melemah ke posisi Rp 14.098 per dolar AS hingga pukul 10.00 WIB.  Mayoritas mata uang Asia juga melemah terhadap dolar AS. Yen Jepang turun 0,27%, dolar Singapura 0,02%, won Korea Selatan 0,04%, peso Filipina 0,05%, yuan Tiongkok 0,08%, dan baht Thailand 0,06%. Sementara dolar Taiwan menguat 0,04%, rupee India 0,14%, ringgit Malaysia 0,1%, dan dolar Hong Kong tak bergerak alias stagnan.

Direktur Riset Center of Reform on Economics Piter Abdullah Redjalam memperkirakan rupiah masih akan melanjutkan pelemahan yang terjadi pekan lalu. Ini karena pengaruh data defisit neraca pembayaran Indonesia pada kuartal IV 2020 akibat kinerja neraca modal dan transaksi keuangan yang negatif. 

Faktor lainnya, sambugnya, yakni indeks dolar yang masih kuat di tengah tingginya imbal hasil atau yield Surat Utang Negeri Paman Sam. "Meskipun melemah, pergerakan rupiah akan tipis saja di antara Rp 14.025-14.100 per dolar AS," ujar Piter kepada Katadata.co.id, Senin (22/2).

NPI kuartal IV 2020 mencatatkan defisit  US$ 0,2 miliar yang ditopang oleh surplus transaksi berjalan di tengah transaksi modal dan finansial yang defisit US$ 900 juta. Transaksi berjalan kembali surplus sebesar US$ 0,8 miliar atau 0,3% dari PDB, melanjutkan surplus pada kuartal sebelumnya US$ 1 miliar atau 0,4% dari PDB.

NPI pada sepanjang tahun lalu surplus US$ 2,6 miliar didorong penurunan defisit transaksi berjalan serta surplus transaksi modal dan finansial. Defisit transaksi berjalan sepanjang tahun lalu turun dari US$ 30,3 miliar menjadi US$ 4,7 miliar.

Sebaliknya, Kepala Riset dan Edukasi Monex Investindo Tjendra menilai minat pasar terhadap aset berisiko hari ini justru meningkat sehingga mendorong bursa  saham Asia menguat pagi ini . Nilai tukar regional juga terlihat menguat terhadap dolar AS. "Ekspektasi pemulihan ekonomi global mendorong penguatan sentimen tersebut," kata Ariston kepada Katadata.co.id.

Selain itu, sentimen positif datang dari ekspektasi perilisan stimulus besar pemerintah AS dan penurunan kasus baru covid-19 di dunia. Melansir laman resmi Worldometers, kasus pandemi dunia bertambah 909 menjadi 111,95 juta per pagi hari ini. Total kematian mencapai 2,48 juta dengan kesembuhan 87,32 juta.

Menurut Ariston, rupiah juga bisa menguat pagi ini karena sentimen-sentimen positif tersebut. "Di dalam negeri, penurunan kasus baru Covid-19 dan kemajuan program vaksinasi juga mendukung penguatan rupiah," ujar dia.

Meski demikian, ia mengingatkan bahwa pasar akan mewaspadai kenaikan tingkat imbal hasil atau yield obligasi pemerintah AS tenor jangka panjang hari ini. Untuk tenor 10 tahun, yield mencetak level tertinggi baru tahun ini di 1.36%, yang bisa berimbas ke penguatan dolar AS. Maka dari itu, potensi penguatan rupiah hari ini ada di rentang tipis Rp 14.000-14.100 per dolar AS.

Saat berita ini ditulis, indeks dolar AS tercatat turun 0,1% ke level 90.27. Kendati begitu, mata uang Negeri Paman Sam terlihat melemah dibanding mayoritas mata uang utama seperti euro, pound Inggris, dolar Australia, serta dolar Kanada.

 

Reporter: Agatha Olivia Victoria
Editor: Agustiyanti
News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait