Jakarta Catat 66 Murid Positif Covid-19 Selama PTM, Menkes: Ini Normal

Pemeriksaan Covid-19 dilakukan pada 2.113 murid di DKI Jakarta pada 1-21 September seiring mulai berjalannya Pembelajaran Tatap Muka (PTM)
Image title
27 September 2021, 21:35
budi sadikin, pembelajaran tatap muka, sekolah tatap muka, siswa positif Covid-19
Youtube/PermataBank
Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin mengatakan, pemerintah akan melakukan sampling surveilans untuk mengevaluasi PTM.

Dinas Kesehatan Provinsi DKI Jakarta mencatat, terdapat 66 murid yang menjalankan Pembelajaran Tatap Muka (PTM) positif Covid-19 hingga 22 September 2021. Jumlah tersebut mencapai 3,12% dari 2.113 murid yang diperiksa pada 1-21 September 2021. 

"Saya bicara dengan Nadiem (Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi), ini normal. kita harus belajar hidup dengan ini," kata Budi dalam konferensi pers virtual, Senin (27/9).

Pencarian kasus secara aktif dilakukan Dinas Kesehatan DKI Jakarta sejalan dengan pelaksanaan pembelajaran tatap muka. Ini terutama dilakukan di wilayah berkategori kuning.

Jumlah sampel diambil dari 2.271 murid di 22 sekolah. Namun, 158 murid masih menunggu hasil tes swab PCR.

Dari 66 orang yang positif, 21 murid berasal dari SMP PGRI 20 Duren Sawit, 12 murid MTS 29 Jakarta Cipayung, 10 murid SMKN 66 Lubang Buaya, dan 5 murid SMAN 11 Cakung. Selain itu, 3 anak positif Covid-19 adalah siswa SDN 06 Pademangan Timur, 2 murid SD Bina Insani Mandiri Srengseng, dan 2 murid SDN 02 Pondok Ranggon. Selebihnya, 1 murid positif masing-masing ditemukan di SDN 05 Rawasari, SMAN 20 Sawah Besar, SDN 05 Meruya Utara, SMA Yadika 5 Joglo, dan SMAN 65 Jakarta Barat.

Budi memastikan, temuan 1 orang positif di satu sekolah bukan karena ada klaster penularan corona. Sementara itu, temuan 21 orang positif di SMP PGRI 20 kemungkinan adalah klaster.

Meski demikian, ia menilai temuan tersebut tak berarti pemerintah harus mundur dan menarik kembali kebijakan PTM. Ia menekankan pentingnya menjaga manajemen risiko.

Pemerintah akan melakukan sampling surveilans untuk mengevaluasi PTM. Ini dilakukan dengan mengidentifikasi sekolah di kabupaten/kota yang melakukan PTM.

Random sampling sebesar 10% akan diambil dari  total sekolah yang menggelar PTM. Tes swab PCR dilakukan kepada individu, baik siswa dan pengajar.

Nantinya, hasil surveilans akan digunakan untuk menentukan kelanjutan PTM. Untuk hasil positif kurang dari 1% serta kisaran 1-5% dapat tetap melaksanakan PTM khusus pada anggota yang tidak terpapar corona.

Sedangkan jika random sampling menghasilkan positif Covid-19 di atas 5% maka seolah harus tutup selama 14 hari. "Jadi kalau ada outbreak, kita hanya mengunci satu sekolah saja. Tidak usah semua sekolah ditutup," katanya.

Reporter: Rizky Alika
Editor: Agustiyanti
News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait