Pidato di Sidang PBB, Jokowi Soroti Vaksin - Hak Perempuan Afganistan

Jokowi juga mengingatkan dunia soal perubahan iklim dan pentingnya mewujudkan pertumbuhan yang rendah karbon
Ameidyo Daud Nasution
23 September 2021, 07:53
Jokowi, PBB, covid-19, vaksin, afghanistan
Katadata
Presiden Joko Widodo saat menghadiri Global Covid-19 Summit pada Rabu (22/9). Pertemuan tersebut digelar di sela-sela Sidang Majelis Umum PBB. Foto: Lukas - Biro Pers Sekretariat Presiden

Presiden Joko Widodo berpidato dalam Sidang Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) yang disiarkan pada Kamis (23/9). Dalam pidatonya, Jokowi menyoroti ketimpangan vaksin Covid-19 hingga hak wanita di Afganistan.

Jokowi mengatakan saat ini kemampuan banyak negara dalam menggelar vaksinasi sangat tidak merata. Oleh sebab itu ia berharap dunia bisa menyelesaikan persoalan ini lewat langkah nyata.

“Perlu menata ulang arsitektur global health security. Perlu mekanisme baru baik pendanaan, obat-obatan, alat kesehatan, serta tenaga kesehatan yang merata,” kata Jokowi dalam siaran virtual.

 

Hal kedua, Jokowi menyampaikan bahwa pemulihan ekonomi global hanya bisa tercapai jika pandemi Covid-19 bisa diselesaikan. Dalam mendukung perbaikan, Indonesia dan negara berkembang lainnya akan membuka pintu investasi yang berkualitas.

Ketiga, Jokowi mengingatkan komitmen ketahanan iklim dan mewujudkan dunia yang rendah karbon. Meski demikian, transformasi tersebut harus melibatkan negara berkembang sebagai produsen.

“Pandemi juga mengingatkan pentingnya penyebaran sentra vaksin di banyak negara,” kata Jokowi.

Keempat, Presiden mengajak dunia serius melawan intoleransi, konflik, terorisme, dan perang. Secara khusus, Jokowi menyinggung potensi marginalisasi perempuan di Afganistan, kemerdekaan Palestina, hingga krisis politik di Myanmar harus menjadi agenda bersama.

“Pemimpin ASEAN sudah bertemu dan menghasilkan lima konsensus. Harapan itu harus dijawab nyata dengan hasil yang jelas,” kata mantan Wali Kota Solo itu.

Dalam kesempatan tersebut, Jokowi juga menyinggung langkah Indonesia ketika menjadi Presidency G20 2022 mendatang. Ia berharap RI mampu menjembatani seluruh negara untuk bekerja sama, mulai dari negara maju dan berkembang, Utara-Selatan, hingga negara Kepulauan Pasifik. “Ini komitmen kami, no one left behind,” katanya.

 

News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait