Temui Jokowi, Ketum PBNU Yahya Staquf Janji Dukung Agenda Pemerintah

Yahya Staquf sebelumnya terpilih menjadi Ketum PBNU usai mengalahkan inkumben Said Aqil dalam Muktamar Ke-34 NU. Ia sempat berjanji tak akan membawa organisasi tersebut terseret politik praktis
Image title
29 Desember 2021, 16:10
yahya staquf, jokowi, pbnu, nahdlatul ulama
www.setkab.go.id
Presiden Jokow memberikan ucapan selamat kepada Yahya C, Staquf usai dilantik sebagai anggota Wantimpres, di Istana Negara, Jakarta, Kamis (31/5)

Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Yahya Cholil Staquf menemui Presiden Joko Widodo di Istana Kepresidenan Bogor, Jawa Barat. Dalam pertemuan itu, ia berjanji akan menyukseskan agenda pemerintah.

Yahya mengatakan NU akan menggerakkan masyarakat luas demi tercapainya agenda nasional. Adapun, agenda utama NU ialah menyempurnakan konstruksi dasar organisasi agar NU dapat menjadi agen transformasi.

"Termasuk di dalam ikut membantu menyukseskan apa yang telah diagendakan oleh pemerintah," kata Yahya di Istana Kepresidenan Bogor, Rabu (29/12).

 

Advertisement

Yahya sebelumnya terpilih menjadi Ketum PBNU usai mengalahkan inkumben Said Aqil Siradj dalam Muktamar Ke-34 NU. Dalam kedatangannya ke Istana Bogor, Yahya juga melaporkan hasil Muktamar kepada ke Jokowi.

Selain itu ia melaporkan hasil yang sudah disepakati, seperti proram dan agenda ke depan. "Tentunya nanti akan sangat terkait dengan prospek kerja sama-kerja sama, termasuk dengan pemerintah," ujar dia.

Sebelumnya pria yang akrab dipanggil Gus Yahya meraih 337 suara dan Said Aqil memperoleh 210 dari total 548 suara. Suara yang masuk datang dari pengurus cabang, wilayah maupun luar negeri, dengan tidak ada satu pun suara yang tidak sah.

Meski demikian, Yahya diperkirakan akan memiliki sikap anti-politik praktis selama menjabat. Sebelum Muktamar, ia pernah menegaskan akan mengembalikan rumah nahdliyin menjauh dari aktivitas politik secara langsung. Bahkan dia mengatakan tak akan ada calon presiden atau wakil presiden dari PBNU pada Pemilu 2024.

Pengamat politik yang juga mantan Menteri Riset dan Tenologi era Presiden Abdurrahman Wahid, Muhammad A.S. Hikam menilai sosok Yahya cenderung memiliki kehati-hatian yang tinggi dalam menyikapi politik. Hikam optimistis Yahya dapat menjaga keseimbangan dalam tubuh NU, terlebih lagi dengan kehadiran Rais Aam yakni Miftachul Akhyar yang dinilainya mampu memberi 'rem'.

Meski demikian, sikap Yahya soal independensi politik bakal teruji dalam Pemilihan 2024 dan pemerintahan yang berkuasa. Saat ini sejumlah partai politik sudah mulai menyusun strategi untuk memenangkan Pemilu.

Beberapa partai yang dekat dengan kalangan Nadhliyin seperti Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) dan Partai Persatuan Pembangunan (PPP) tengah menjajaki langkah untuk membentuk poros Islam pada Pemilu 2024 nanti. "NU itu memang akan digoda atau diajak untuk terlibat dalam aktivitas politik seperti masuk koalisi tertentu," kata dia.

 

Reporter: Rizky Alika
News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait