Cari Alternatif Gandum, Indofood Akan Kembangkan Mi Berbahan Sorgum

Indofood akan mengembangkan industri pengolahan sorgum. Kementan diharapkan meningkatkan produksi komoditas pangan tersebut.
Ameidyo Daud Nasution
13 Agustus 2022, 09:44
indofood, sorgum, gandum, mie instan
Vijayanarishma/pixabay
Ilsutrasi sorgum

Krisis pangan dunia melanda seluruh negara, termasuk Indonesia. PT Indofood Sukses Makmur Tbk menyatakan siap mengembangkan mie instan berbahan dasar sorgum untuk menggantikan gandum impor.

Driektur Indofood Sukses Makmur, Fransiscus Welirang mengatakan pihaknya telah berbicara dengan Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo untuk mengembangkan mie instan berbasis pangan lokal ini.

"Jadi nanti ada program pengembangan tanaman sorgum bersama-sama," kata Fransiscus dalam keterangan tertulis di Jakarta, Sabtu (13/8) seperti dikutip dari Antara.

Langkah ini penting untuk mencari substitusi terigu berbasis gandum. Apalagi, Indonesia masih mengimpor 11,6 juta ton gandum pada 2021.

Advertisement

Indofood dalam hal ini siap mengembangkan pengolahan komoditas sorgum. Sedangkan Kementan diharapkan mampu meningkatkan produksi pangan tersebut secara nasional.

"Produk tepung ini berkembang terus, akan ada produk baru. Yang pasti, inisiasi dari Kementan," kata pria yang akrab dipanggil Franky ini.

Dari data Badan Pusat Statistik (BPS), konsumsi gandum per kapita penduduk Indonesia pada 2019 mencapai 30,5 kilogram per tahun. Kebutuhan terbeser untuk roti, mie instan, hingga kue.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik, konsumsi gandum penduduk Indonesia tahun 2019 adalah 30,5 kg per kapita per tahun. Kebutuhan gandum terbesar adalah untuk industri produk pangan olahan seperti mie instan, kue, dan roti.

Kementan juga akan mengingatkan masyarakat dan industri pangan akan potensi krisis pangan. Oleh sebab itu, mereka akan menggalakkan penanaman sorgum, singkong, hingga sagu untuk menggantikan gandum.

"Kementan juga memperkuat pangan lokal alternatif seperti umbi-umbian, pisang, dan aneka produk lain," kata Kepala Biro Humas dan Informasi Publik Kementan Kuntoro Boga Andri

Sebelumnya Mentan menggulirkan isu adanya potensi kenaikan harga mi instan hingga tiga kali lipat dari harga saat ini. Penyebabnya, perang Rusia dan Ukraina menyebabkan komoditas gandum sebagai bahan baku utama mi instan sulit didapat.

Namun Franciscus Welirang menilai, isu kenaikan harga mi instan hingga tiga kali lipat merupakan hal yang berlebihan.  Ini lantaran bahan baku mi instan tidak semata-mata hanya mengandung tepung terigu yang berasal dari gandum. Terdapat komponen lain seperti, kemasan, plastik, minyak goreng, lada, garam, cabe, kecap, dan lainnya.

"Kalau dikatakan bisa naik tiga kali lipat, akal sehat juga mengatakan tidak akan mungkin," kata pria yang akrab disapa Franky ini kepada Katadata.co.id, Rabu (10/8).

Sedangkan Syahrul mengatakan, perang Rusia bahkan menyebabkan 180 juta ton gandum tidak bisa diekspor dari negara tersebut. Kondisi itu akan mempengaruhi industri makanan di Indonesia yang masih ketergantungan pada impor gandum.

 

Reporter: Antara
News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait