Perang Dagang Berisiko Tekan Harga Minyak, Batu Bara, dan Metal

Katadata
Perang dagang AS-Tiongkok berisiko memberi tekanan terhadap harga berbagai komoditas dari mulai minyak, batu bara, hingga metal.
14/5/2019, 17.09 WIB

Negosiasi dagang antara Tiongkok dan Amerika Serikat (AS) berakhir tanpa kesepakatan, pekan lalu. Perang dagang antarkedua negara pun berlanjut. Perkembangan ini berisiko memberi tekanan terhadap harga berbagai komoditas dari mulai minyak, batu bara, hingga metal.

Analis Mirae Asset Sekuritas Andy Wibowo Gunawan mengatakan, secara fundamental, harga minyak sebetulnya berpotensi meningkat. Alasannya, penurunan produksi harian minyak AS kemungkinan berlanjut seiring berkurangnya jumlah rig yang beroperasi. Pada 10 April, jumlah rig sebanyak 988 unit, turun dibandingkan pekan sebelumnya 990 unit.

“Meski begitu, pembicaraan antara AS-Tiongkok yang berakhir tanpa kesepakatan bisa menekan harga minyak WTI dan Brent pekan ini,” kata Andy, dalam analisis tertulisnya, Senin (13/5).

(Baca: Perang Dagang Kembali Pecah, Tiongkok Tarik Tarif 25% atas Produk AS)

Mengacu pada data Bloomberg, harga minyak dunia memang cenderung turun seiring memanasnya hubungan dagang AS-Tiongkok, beberapa waktu belakangan. Pada Selasa (14/5) siang, harga minyak WTI di bursa Nymex sebesar US$ 60,85 per barel untuk kontrak Juni, sedangkan harga minyak Brent di bursa ICE sebesar US$ 70,10 per barel untuk kontrak Juli. Ini merupakan harga terendah dalam 1,5 bulan belakangan.

Andy memprediksi harga batu bara juga belum akan rebound pekan ini, imbas sentimen negatif terhadap hasil pembicaraan dagang AS-Tiongkok. Tekanan harga juga kemungkinan dialami baja stainless. Ini seiring kebijakan Presiden Donald Trump yang mematok tarif lebih tinggi untuk produk baja stainless Tiongkok.

(Baca: Harga Batu Bara Acuan Jatuh ke Level Terendah Sejak Agustus 2017)

Harga metal lainnya juga kemungkinan akan terpengaruh. “Tekanan harga yang berlanjut ini akan memunculkan risiko penurunan untuk harga nikel global. Kami juga melihat situasi yang sama untuk harga timah global. Risiko penurunan muncul dari sisi permintaan,” demikian tertulis.