Kinerja keuangan PT Pertamina (Persero) tahun ini terancam menurun dibandingkan sebelumnya. Penyebabnya adalah gejolak nilai tukar Rupiah (Rp) terhadap dolar Amerika Serikat (US$) dan harga minyak dunia.
Direktur Keuangan Pertamina Arief Budiman mengatakan ancama akan diminimalkan dengan melakukan efisiensi. “Mungkin akan ada penurunan, tapi kan kami ada inisiatif efisiensi," kata Arief di Jakarta, Rabu (6/6). Namun ia belum mau merinci berapa keuntungan yang akan tergerus akibat faktor tersebut.
Berdasarkan data yang dipaparkan dalam Rapat Dengar Pendapat dengan Komisi VII di DPR, Jakarta, Kamis (18/1), Pertamina memang memiliki sensitivitas terhadap harga minyak dunia. Apalagi pemerintah tidak akan menaikkan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) hingga tahun 2019.
Bahan paparan itu menyebutkan sebenarnya tahun ini, Pertamina menargetkan bisa mengantongi laba bersih sebesar US$ 2,4 miliar atau lebih tinggi dari tahun lalu yang hanya US$ 2,2 miliar. Namun, target itu dengan asumsi harga minyak Indonesia (Indonesian Crude Price/ICP) US$ 48 per barel.
Sayangnya, harga minyak Indonesia terus meningkat selama beberapa bulan terakhir. Di sisi lain, Pertamina tidak boleh menaikkan harga BBM. Dampaknya, laba bersih perusahaan energi milik negara itu tergerus.
Dari perhitungan Pertamina, jika ICP menyentuh level US$ 60 per barel, sementara kebijakan harga BBM tetap sepanjang tahun, laba Pertamina hanya US$ 1,7 miliar. Laba itu terus tergerus menjadi US$ 1 miliar jika jika harga minyak menyentuh US$ 70 per barel. Padahal per Mei ini, ICP telah tembus US$ 72,46 per barel.
Meski begitu, Pertamina tetap mendukung kebijakan harga BBM Pemerintah yang tujuannya menjaga daya beli masyarakat. Pertamina berharap pemberian subsidi Solar dari pemerintah akan membantu meringankan beban keuangan perusahaan. "Pemerintah pun memperhatikan kesehatan keuangan Pertamina untuk itu diberikan tambahan subsidi," kata dia.
Adapun pemerintah telah sepakat menambah subsidi solar dari Rp 500 per liter menjadi Rp 2.000 per liter. Kebijakan ini untuk menjaga daya beli masyarakat.
Sementara itu terkait harga BBM nonsubsidi, hingga kini Pertamina belum mengajukan usulan perubahan harga ke Kementerian ESDM. Arief mengaku belum membahas hal tersebut lebih jauh. Ini karena Pertamina masih fokus untuk mengamankan pasokan BBM untuk masa libur lebaran. "Nanti lihat dulu lah," ujar Arief.
(Baca: Ini Rincian Harga Baru BBM Shell, Total, AKR yang Disetujui Pemerintah)
Pertamina juga akan melakukan efisiensi. Namun, Pertamina tidak akan menunda sejumlah proyek-proyek utama. Dengan begitu proyek besar seperti kilang dan proyek lainnya tetap akan berjalan. "Untuk saat ini proyek-proyek investasi utama tetap berjalan," kata Arief.