Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) sudah mencatat biaya produksi per barel masing-masing kontraktor selama tujuh bulan pertama tahun 2017. Ada tiga kontraktor dengan biaya produksi terbesar yakni Kangean Energy Indonesia (KEI), Pertamina Hulu Energi Offshore North West Java (PHE ONWJ) dan Medco Natuna.

Kepala Divisi Program dan Komunikasi SKK Migas Wisnu Prabowo Taher mengatakan ketiga kontraktor itu memiliki ongkos paling besar karena lokasi wilayah kerjanya berada di lepas pantai (offshore). Kegiatan produksi di lepas pantai memang membutuhkan biaya tinggi dibandingkan di darat (onshore).

(Baca: Naik 26%, Cost Recovery 2018 Dipatok Hingga US$ 13,3 Miliar)

Adapun biaya per barel setara minyak (barel oil equivalent/BOE) ini meliputi biaya operasi dan pengembangan masing-masing kontraktor kontrak kerja sama (KKKS). “Untuk ONWJ, KEI dan Medco Natuna memang relatif lebih tinggi dari rata-rata karena offshore,” kata Wisnu kepada Katadata, Selasa (29/8).

Berdasarkan data yang diperoleh Katadata, biaya produksi paling besar sejak awal tahun hingga 31 Juli 2017 adalah KEI dengan nilai US$ 31,25 per BOE. Padahal secara rata-rata biaya produksi seluruh kontraktor kontrak kerja sama hanya US$ 15,50 per BOE.

Halaman: