Butuh US$ 125 Miliar untuk Atasi Defisit Listrik
KATADATA ? Untuk menunjang pertumbuhan ekonomi sebesar 7 persen per tahun, Indonesia harus didukung tambahan kapasitas listrik sebesar 5.900 mega watt (MW) dalam kurun waktu 10 tahun. Masalahnya untuk bisa menambah kapasitas listrik tersebut dibutuhkan investasi yang sangat besar.
Direktur Perencanaan dan Pembinaan Afiliasi PT Perusahaan Listrik Negara (Persero) Murtaqi Syamsuddin menjelaskan agar bisa menambah kapasitas listrik sebesar 5.900 MW, dibutuhkan dana belanja modal (capital expidenture/capex) sebesar US$ 125 milliar. Dengan rincian, US$90 milliar untuk pembangkit, US$ 19 milliar untuk transmisi, dan US$ 15 milliar untuk distribusi.
"Artinya butuh US$12,5 milliar per tahun. Sementara margin (laba) kami hanya US$ 4 milliar. Itupun sebagian hutang," ujarnya, dalam diskusi publik 'Menyelamatkan Listrik untuk Masa Depan', di Grand Sahid Hotel, Jakarta, Senin (7/7).
Dia berharap, pemerintah dapat memberikan tambahan margin keuntungan, dengan cara mengurangi subsidi listrik. Saat ini, pemerintah sudah berupaya untuk mengurangi subsidi listrik untuk industri dan rumah tangga kapasitas besar. Tapi tetap saja masih banyak golongan pelanggan yang mendapat subsidi.
Menurut Murtaqi, dari pengurangan subsidi tahun ini, pemerintah bisa mendapatkan penghematan sebesar Rp 8,5 triliun. Sementara berdasarkan perhitungan PLN, tahun depan penghematan hingga Rp 30 triliun.
Dari Penghematan ini, "pemerintah punya keleluasaan untuk membangun infrastruktur. Mudah-mudahan itu bisa diberikan kepada PLN untuk menaikan margin," tuturnya.
Direktur Pembinaan Program Ketenagalistrikan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Hasril Zahri Nuzahar mengakui bahwa kesulitan utama dalam hal pengembangan daya listrik ini adalah anggaran. Selama ini pemerintah hanya memberikan anggaran untuk listrik kepada PLN, hanya sebatas biaya produksi dan sedikit keuntungan lewat subsidi.
Dia juga sadar bahwa untuk mendapatkan modal demi menambah kapasitas listrik ini, pemerintah harus mengurangi subsidi, untuk memperbesar anggaran. "APBN (Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara) harus diperbesar, kurangi subsidi sekarang secara bertahap," ujarnya.