Inflasi Melonjak, Harga Minyak Turun Tajam ke Bawah US$ 100/Barel

Medco Energi
Ilustrasi produksi minyak
Penulis: Syahrizal Sidik
31/8/2022, 07.17 WIB

Harga minyak dunia pada perdagangan Rabu pagi mengalami penurunan paling tajam dalam sebulan terakhir ini.

Anjloknya harga minyak dipicu meningkatnya kekhawatiran permintaan bahan bakar akan melemah karena sejumlah bank sentral mengerek suku bunga untuk melawan lonjakan inflasi. Selain itu kerusuhan yang terjadi di Irak gagal mengurangi ekspor negara OPEC.

Minyak mentah berjangka Brent untuk pengiriman Oktober anjlok sebesar US$ 5,78 atau 5,5% menjadi US$ 99,31 per barel dari sebelumnya di level US$ 105,9 per barel. Adapun, kontrak Oktober yang berakhir pada Rabu dan kontrak November yang lebih aktif berada di US$ 97,84, jatuh 4,9%

Sedangkan, minyak mentah berjangka West Texas Intermediate (WTI) AS tergelincir US$ 5,37 atau 5,5%, menjadi ditutup pada US$ 91,64 per barel.

Dengan inflasi mendekati dua digit di sejumlah negara maju, bank sentral menggunakan strategi menaikkan suku bunga yang lebih agresif untuk memperlambat pertumbuhan ekonomi dan permintaan bahan bakar.

Bank Sentral Eropa (ECB) akan memasukkan kenaikan suku bunga 75 basis poin di antara opsi untuk pertemuan kebijakan September, kata pembuat kebijakan Estonia, Madis Muller pada Selasa (30/8/2022), seperti dikutip dari Antara.

Data menunjukkan, inflasi Jerman pada Agustus naik ke level tertinggi pada lima dekade terakhir. Sedangkan, bank sentral Hongaria menaikkan suku bunga dasarnya sebesar 100 basis poin menjadi 11,75 persen.

Taruhan pada kenaikan suku bunga Fed besar lainnya juga mendorong dolar. Greenback yang lebih kuat membuat minyak dalam denominasi dolar lebih mahal bagi pembeli dengan mata uang lain.

Harga minyak jatuh setelah komentar dari pemasar minyak milik negara Irak SOMO bahwa ekspor minyak negara itu tidak terpengaruh oleh kerusuhan, kata analis UBS Giovanni Staunovo.

Bentrokan terburuk di Baghdad dalam beberapa tahun antara kelompok-kelompok Muslim Syiah yang bersaing berlanjut untuk hari kedua sebelum mereda ketika ulama kuat Moqtada al-Sadr memerintahkan para pendukungnya untuk pulang.

SOMO mengatakan bisa mengarahkan lebih banyak minyak ke Eropa jika diperlukan.

Harga mendapat banyak tekanan ketika produsen minyak dengan pertumbuhan tercepat Rusia, Gazprom Neft, mengatakan pihaknya berencana untuk menggandakan produksi minyak di ladang Zhagrin di Siberia Barat menjadi lebih dari 110.000 barel per hari.

Investor akan memantau pertemuan Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak (OPEC) dan sekutu termasuk Rusia, yang dikenal secara kolektif sebagai OPEC+ pada 5 September.

Arab Saudi pekan lalu meningkatkan kemungkinan pengurangan produksi dari OPEC+, yang menurut sumber bisa bertepatan dengan peningkatan pasokan dari Iran jika mencapai kesepakatan nuklir dengan Barat.

Dalam kemungkinan peningkatan pasokan lainnya, menteri perminyakan Venezuela mengatakan negara itu siap untuk melanjutkan bisnis dengan perusahaan minyak utama Chevron Corp, menambahkan bahwa kemajuan untuk meluncurkan kembali operasi tergantung pada izin dari Washington.

Kepala penelitian di FOREX.com dan City Index, Matt Weller mengatakan, dengan sebagian besar produsen sudah beroperasi pada atau di atas kapasitas dan tanda-tanda yang meningkat bahwa ekonomi global mungkin melambat, beberapa pengurangan pasokan tampaknya semakin mungkin terjadi dalam beberapa bulan mendatang.

Reporter: Antara