Pertamina Cari Cara Agar Dapat Harga Ekonomis dalam Impor Minyak Mentah AS
PT Kilang Pertamina Internasional (KPI) saat ini sedang mencari cara agar bisa mendapatkan harga kompetitif untuk impor minyak mentah asal Amerika Serikat (AS). Impor ini merupakan salah satu rangkaian kesepakatan negosiasi tarif resiprokal 19% yang ditetapkan AS kepada Indonesia.
“Kami mendukung program pemerintah untuk tarif resiprokal dengan AS, bagaimana mendapatkan impor minyak mentah secara ekonomis,” kata Direktur Utama Taufik Adityawarman dalam rapat dengar pendapat bersama Komisi XII DPR RI, Senin (17/11).
Dalam proses negosiasi, Indonesia berencana mengimpor produk-produk migas asal AS senilai US$ 15 miliar atau Rp 250 triliun. Dia juga berharap negosiasi harga bisa membantu pemerintah agar neraca perdagangan kedua negara tetap seimbang.
Selain membahas impor yang berkaitan dengan tarif resiprokal, Pertamina saat ini juga sedang berupaya menyerap minyak mentah domestik secara maksimal. Perusahaan pelat merah itu akan berkoordinasi dengan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) serta Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas).
“Hal ini akan membantu untuk menurunkan alpha minyak mentah sebagai intake dari porsi minyak mentah melalui kargo,” ujarnya.
Taufik menjelaskan Pertamina saat ini mengelola 6 kilang dengan total kapasitas terpasang sebanyak 1,15 juta barel per hari. Keenam kilang ini berfungsi untuk menyuplai 60-70% kebutuhan BBM nasional.
Pertamina saat ini juga sedang meningkatkan kapasitas 100 ribu barel per hari intake crude oil di salah satu kilang mereka yakni RU V Balikpapan. Saat ini kapasitas kilang Balikpapan mencapai 260 ribu barel per hari. Melalui peningkatan kapasitas, maka totalnya menjadi 360 ribu barel per hari.
“Saat ini progres fisik pelaksanaan proyek RDMP Balikpapan sudah mencapai 96,97%. Saat ini proses commissioning akan kami selesaikan insya Allah di 2025," katanya.
Belum Ada Kesepakatan dengan AS
Proses negosiasi antara Indonesia dan Amerika Serikat terkait tarif resiprokal masih berlangsung. Kondisi ini membuat Indonesia masih mengimpor minyak dan gas bumi dari Singapura.
“Belum ada (penghentian impor dari Singapura),” kata Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi Laode Sulaeman saat ditemui di Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral, Jakarta, Jumat (7/11).
Rencana impor minyak mentah dari AS akan mengubah komposisi impor migas Indonesia ke negara lain, termasuk Singapura. “Semua yang berhubungan dengan kesepakatan tarif itu saat ini masih dalam proses, jadi belum diputuskan (mana impor yang diubah) ke mana dan di mana,” ujarnya.
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto pada awal pekan ini mengatakan kelanjutan impor migas AS akan berlanjut setelah kedua negara mencapai kesepakatan dan ditandatangani.
Menteri Perdagangan Budi Santoso menargetkan penyelesaian perundingan kebijakan tarif resiprokal yang ditetapkan AS rampung bulan ini.