Harga Minyak Mentah Naik Imbas Turunnya Tensi Ancaman Trump soal Greenland
Harga minyak mentah naik tipis setelah Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump meredakan ketegangan dengan Eropa terkait tuntutannya soal Greenland.
Minyak berjangka Brent naik 9 sen, atau 0,14%, menjadi US$ 65,33 per barel pada pukul 03.20 GMT Kamis (22/1). Sementara Minyak West Texas Intermediate untuk kontrak Maret naik 13 sen, atau 0,21%, menjadi US$ 60,75 per barel.
Trump sebelumnya telah menyarankan adanya kesepakatan terkait Greenland tanpa menggunakan kekuatan atau serangan. Peneliti utama energi dan kimia di China Futures Co Ltd. Mingyu Gao mengatakan rencana ini akan mengurangi risiko perang dagang AS Eropa, meminimalisir keretakan translantik selama puluhan tahun.
Langkah tersebut juga dinilai bisa mendukung perekonomian global dan mendongkrak permintaan minyak dunia .
“Pada saat yang sama, Amerika Serikat belum menyingkirkan kemungkinan keterlibatan militer di Iran, yang juga mendukung harga minyak,” kata Gao dikutip dari Reuters, Kamis (22/1).
Kendati demikian, Trump telah mengatakan dirinya berharap tidak akan ada tindakan militer AS lebih lanjut di Iran. Namun hal ini kemungkinan bisa berubah jika Pemerintah Iran melanjutkan program nuklirnya.
Faktor lain yang mendukung naiknya harga minyak berasal dari proyeksi Badan Energi Internasional (IEA) terkait tumbuhnya permintaan minyak global 2026.
Geopolitik dan Gangguan Pasokan
Senada, Direktur Eksekutif Pusat Studi Hukum Energi Pertambangan Bisman Bakhtiar juga menyebut kenaikan harga minyak mentah saat ini disebabkan oleh ketegangan geopolitik. Kondisi ini menaikkan risiko pasokan serta kondisi ekonomi yang mendorong ekspektasi permintaan lebih tinggi.
“Memang faktor utama yang cepat menjadi pemicu kenaikan harga aspek geopolitik dan konflik kawasan,” kata Bisman kepada Katadata, Kamis (22/1).
Dia memprediksi dalam jangka pendek harga minyak akan tetap volatil, sebab menurutnya harga bisa bertahan di angka saat ini sudah cukup bagus.
“Untuk jangka panjang harga cenderung moderat atau bisa potensi turun tipis. Sebab, pasokan global sepertinya tetap melebihi permintaan dan aspek transisi energi mulai berkembang,” ujarnya.
Praktisi migas Hadi Ismoyo mengatakan dalam enam bulan terakhir harga minyak dunia memang trennya menurun. Saat ini harga minyak berada angka di keseimbangan baru pada level US$ 60-65 per barel.
Menurutnya, penurunan ini terjadi karena situasi ekonomi dunia sedang tidak baik baik saja. Kendati demikian, dia memproyeksi harga minyak dunia masih berpotensi meningkat di angka US$ 70 per barel.
“Bisa terjadi jika perdamaian dunia dapat diwujudkan dan ekonomi tumbuh dengan baik,” kata Hadi kepada Katadata..