Iran telah menutup jalur pelayaran Selat Hormuz pada Sabtu (28/2). Penutupan ini dilakukan setelah meletusnya konflik antara Iran, Israel, dan Amerika Serikat (AS). 

Selat ini, Selat Hormuz merupakan salah satu rute pengiriman minyak utama dunia. Hormuz menghubungkan Teluk Persia dengan Teluk Oman dan Laut Arab.

Praktisi migas Hadi Ismoyo mengatakan penutupan Selat Hormuz akan membuat dunia kehilangan pasokan sekitar 17-20 juta barel minyak per hari. Iran telah berulang kali mengancam akan menutup selat tersebut. Namun, Tehran belum pernah menindaklanjuti ancaman tersebut, karena hal itu berisiko memicu respons internasional yang cepat yang dapat menghambat ekspor minyaknya ke luar negeri.  

Selat Hormuz merupakan tempat yang dilalui 20% ekspor minyak dari negara Timur Tengah atau kawasan The Gulf Cooperation Council (GCC). Kawasan tersebut terdiri atas negara Bahrain, Kuwait, Oman, Qatar, Saudi Arabia, and the United Arab Emirates.

Selat ini juga merupakan jalur perdagangan yang dilalui oleh 30% pasokan gas alam cair (LNG) dunia. Besarnya keberadaan minyak yang melewati jalur ini, juga berdampak pada kenaikan harga. 

“Dengan sendirinya harga minyak akan naik signifikan. Pagi ini sudah naik dari US$ 72 per barel menjadi US$ 79 per barel. Bahkan kecenderungan akan naik lagi,” kata Hadi kepada Katadata, Senin (2/3).

Kondisi ini semakin panas usai AS dan Israel melancarkan serangan yang mengakibatkan pimpinan tertinggi Iran Imam Khamenei meninggal dunia. Situasi ini membuat Iran melancarkan balas dendam bertubi-tubi.

Hadi memprediksi Iran menyerang seluruh fasilitas AS yang ada di Timur Tengah, termasuk menenggelamkan seluruh kapal tanker asing di Selat Hormuz. Dampak lebih lanjutnya, konflik dan penutupan selat tersebut akan meningkatkan harga bahan bakar minyak (BBM).

Indonesia sendiri merupakan negara pengimpor minyak, sebanyak 1,2 juta barel per hari. “Harga BBM tentu akan naik, jika harga minyak mentah terus melonjak,” ucapnya.

Meski harga minyak makin naik, namun menurut Hadi Pertamina tidak bisa serta merta menaikkan harga BBM sebab keputusan tersebut harus mengantongi persetujuan pemerintah dan DPR.

“Pertamina harus mengantisipasi kenaikan ini dan berbicara kepada pemerintah. Apakah kenaikan harga ini harus ditanggung Pertamina dan dikompensasi oleh pemerintah, atau justru negara menaikkan pagu anggaran subsidi dalam APBN,” katanya.

Dia menyebut kondisi ini merupakan pilihan yang berat di tengah tantangan ekonomi.

Tidak hanya Hadi, Direktur Eksekutif Pusat Studi Hukum Energi dan Pertambangan (Pushep) Bisman Bakhtiar juga mengatakan Selat Hormuz merupakan jalur vital minyak dunia. Penutupan jalur ini membuat banyak kapal tanker pengangkut minyak ini menunda transit yang mengakibatkan turunnya lalu lintas kapal secara tajam.

“Beberapa serangan (antara Iran-AS) yang terjadi di perairan sekitar Hormuz sangat berpangaruh terhadap arus pengiriman minyak,” katanya.

Beberapa pengangkut dan pedagang minyak telah menghentikan pengiriman energi melalui jalur tersebut akibat kekhawatiran keamanan dan peringatan dari otoritas. Hal ini berpotensi menghambat 15 juta barel per hari (bpd) minyak mentah , sekitar 30% dari perdagangan minyak mentah laut global, mencapai pasar.

Rystad Energy memperkirakan dunia akan kehilangan pasokan minyak mentah sekitar 8-10 juta bpd jika infrastruktur alternatif digunakan untuk menghindari aliran melalui Selat Hormuz.

Cina Tak Terdampak

Meski penutupan Selat Hormuz mengancam ketersediaan minyak dunia, menurut Hadi hal ini tidak berpengaruh banyak terhadap Cina. Negara yang dipimpin oleh Xi Jinping dan merupakan salah satu pihak pengimpor minyak dari kawasan Timur Tengah.

Habitat asli Panda ini masih memiliki opsi lain untuk memenuhi kebutuhan minyaknya dari luar Timur Tengah. “Cina memang memiliki fasilitas khusus dengan mendapatkan harga khusus Iran, tapi mereka (tidak terancam karena) masih memiliki alternatif pasokan dari Rusia,” katanya Hadi.

Selain Rusia, Bisman menyebut Cina bisa menjadikan Kazakhstan sebagai opsi lain negara pemasok minyak di luar Timur Tengah.

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

Reporter: Mela Syaharani