Harga Minyak Dunia Naik Tipis, Investor Ragu Trump Akan Akhiri Perang Iran

ANTARA/Anadolu/Fatemeh Bahrami/py/am
Pemandangan di Selat Hormuz, Iran
1/4/2026, 09.49 WIB

Harga minyak acuan dunia naik tipis pada Rabu (1/4). Investor masih ragu akan pernyataan Presiden Amerika Serikat Donald Trump yang akan mengakhiri perang dengan Iran.

Presiden Amerika Serikat (AS) ini menyebut bahwa ada potensi perang Timur Tengah bisa berakhir dalam beberapa minggu. Meski di saat yang bersamaan ada kedatangan pasukan tambahan AS ke kawasan tersebut.

Harga Brent naik 1,7% menjadi US$ 105,77 per barel, sementara harga minyak West Texas Intermediate naik 1,5% menjadi US$ 102,92 per barel.

“Saya akan mengatakan mungkin dalam dua atau tiga minggu, kami akan pergi karena tidak ada alasan bagi kami untuk melakukan ini,” kata Trump dikutip dari Bloomberg, Rabu (1/4).

Meski begitu, Trump kerap mengubah pernyataannya. Terkadang dia menyebut sudah hampir mencapai kesepakatan dengan Iran, namun kemudian berubah dengan memperingatkan adanya peningkatan operasi militer.

Kapal induk AS yang ketiga saat ini sedang menuju Timur Tengah, sehingga masih ada kewaspadaan terkait kemungkinan invasi darat.

“Jika perang mulai mereda, biaya pengiriman, asuransi, dan pergerakan tanker akan membutuhkan waktu untuk kembali normal,” kata analis pasar senior di perusahaan pialang Phillip Nova Pte. Priyanka Sachdeva 

Penutupan Selat Hormuz telah menghambat pasokan minyak mentah dan gas ke pasar global. Kondisi ini mendorong kenaikan harga energi serta memicu kekhawatiran krisis inflasi. 

Dampaknya, harga eceran bensin di AS melampaui US$ 4 per galon untuk pertama kalinya sejak Agustus 2022, yang kemungkinan akan menambah tekanan bagi Trump.

Presiden mengatakan sebagian besar tujuan militer AS di Timur Tengah telah tercapai. Pasukan Trump akan keluar dari kawasan saat Iran tidak lagi mampu memperoleh senjata nuklir, serta mengklaim rezim saat ini lebih baik dibanding kepemimpinan sebelumnya. 

The Wall Street Journal melaporkan Uni Emirat Arab telah mendesak AS serta kekuatan militer di Eropa dan Asia untuk membentuk koalisi guna membuka selat tersebut dengan kekuatan militer. 

Cina dan Pakistan juga menyerukan gencatan senjata segera serta perlindungan jalur pelayaran melalui Hormuz. Seruan tersebut merupakan bagian dari proposal bersama lima poin untuk memulihkan perdamaian dan stabilitas di Teluk dan Timur Tengah setelah pembicaraan antara menteri luar negeri kedua negara.

Bloomberg mencatat, jumlah kapal yang melintasi Hormuz dengan sinyal aktif mulai meningkat, dengan rata-rata pelayaran dua arah mingguan mencapai tujuh kapal. Naik dari lima pada pekan sebelumnya

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

Reporter: Mela Syaharani