Pertalite dan Solar Tak Naik hingga Akhir Tahun, Bagaimana Nasib BBM Nonsubsidi?
Pemerintah memastikan harga bahan bakar minyak atau BBM bersubsidi, yang terdiri dari Pertalite dan Solar tak naik hingga akhir tahun sepanjang rata-rata harga minyak dunia berada di bawah US$ 97 per barel. Namun, pemerintah masih mengkaji kemungkinan penyesuaian untuk harga bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi.
"Itu masih dikaji. Jadi nanti pada waktu pengkajian selesai nanti pasti juga akan disampaikan ke publik," kata Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto dalam konferensi pers di Jakarta, Senin.
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa juga menegaskan pemerintah tidak akan menaikkan harga BBM bersubsidi hingga akhir tahun. Ia memastikan anggaran negara masih mencukupi untuk menjaga kebijakan tersebut.
Purbaya mengatakan, pemerintah telah melakukan berbagai simulasi dengan asumsi harga minyak dunia mencapai US$100 per barel. Dari perhitungan tersebut, defisit anggaran diperkirakan tetap terjaga di kisaran 2,9% terhadap Produk Domestim Bruto (PDB).
“Subsidi BBM tidak akan dihilangkan dan tidak akan naik sampai akhir tahun. Anggaran kami cukup,” ujar Purbaya.
Ia menjelaskan, pemerintah juga memiliki bantalan fiskal berupa sisa lebih pembiayaan anggaran (SAL) sekitar Rp 420 triliun. Dana tersebut dapat digunakan jika terjadi tekanan tambahan, seperti lonjakan harga minyak global yang tidak terkendali.
Menurut dia, kemungkinan harga minyak bertahan di atas US$ 100 per barel dalam jangka panjang relatif kecil. Hal ini mempertimbangkan dinamika global, termasuk kondisi politik di Amerika Serikat.
Karena itu, Purbaya meminta masyarakat tidak khawatir maupun berspekulasi terkait kondisi fiskal pemerintah. Ia menegaskan seluruh kebijakan yang diambil telah diperhitungkan secara matang dan tetap dalam batas kemampuan anggaran negara.
Purbaya sebelumnya mengatakan, tidak adanya kenaikan harga BBM sementara ditanggung oleh PT Pertamina (Persero).
“Sementara sepertinya Pertamina, sementara, ya,” kata Purbaya di Wisma Danantara, Jakarta, Rabu (1/4).
Bendahara negara ini menilai, Pertamina mampu menanggung beban tersebut karena pembayaran kompensasi BBM yang dilakukan pemerintah selama ini berjalan lancar.
“Kompensasi kan sekarang, kami bayar setiap bulan 70% terus-terusan. Jadi keuangan Pertamina juga amat baik untuk absorb itu untuk jangka waktu pendek, enggak masalah,” kata dia.