Harga Minyak Naik Lagi Usai AS - Iran Saling Serang di Selat Hormuz

ANTARA/Anadolu/Fatemeh Bahrami/py/am
Pemandangan di Selat Hormuz, Iran
8/5/2026, 09.41 WIB

Harga minyak dunia kembali naik setelah konflik antara Amerika Serikat (AS) dan Iran kembali memanas di Selat Hormuz. Situasi ini membuat pasar khawatir jalur pengiriman minyak dunia akan kembali terganggu.

Berdasarkan perdagangan hingga pukul 01.23 GMT, harga minyak mentah Brent naik US$1,41 atau 1,41% menjadi US$101,47 per barel. 

Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS menguat US$1,12 atau 1,18% menjadi US$95,93 per barel. Bahkan pada awal perdagangan, harga minyak sempat melonjak lebih dari 3%.

Melansir Reuters (8/5), kenaikan harga terjadi setelah AS dan Iran kembali saling serang meski sebelumnya kedua negara dikabarkan hampir mencapai kesepakatan damai. Harapan pasar terhadap pembukaan kembali Selat Hormuz pun kembali memudar.

Meski demikian, secara mingguan harga kedua kontrak minyak tersebut masih diperkirakan turun sekitar 6%.

Konflik AS dan Iran Berlanjut 

Ketegangan terbaru dipicu tuduhan Iran bahwa AS melanggar gencatan senjata yang telah berlangsung selama satu bulan. Di sisi lain, AS menyatakan serangan yang dilakukan merupakan aksi balasan setelah kapal angkatan lautnya ditembaki saat melintasi Selat Hormuz pada Kamis.

Militer Iran menuduh AS menargetkan kapal tanker minyak Iran, kapal lainnya, serta wilayah sipil di sekitar selat dan daratan utama Iran.

Walau bentrokan kembali terjadi, Presiden AS Donald Trump menyatakan gencatan senjata masih berlaku. Pernyataan itu disampaikan Trump kepada wartawan pada Kamis malam waktu setempat.

Aksi saling serang tersebut terjadi ketika Washington masih menunggu respons Iran atas proposal perdamaian terbaru. Proposal itu disebut belum menyelesaikan sejumlah isu sensitif, termasuk tuntutan AS agar Selat Hormuz kembali dibuka penuh.

Analis IG, Tony Sycamore, mengatakan kondisi pasokan minyak global masih tergolong ketat di tengah ketidakpastian perdamaian antara kedua negara.

“Dari sisi pasokan, situasinya masih ketat,” kata Sycamore dalam catatannya, dikutip dari Reuters, Jumat (8/5). 

Di sisi lain, Komisi Perdagangan Berjangka Komoditas AS (CFTC) juga dilaporkan tengah menyelidiki transaksi perdagangan minyak senilai US$7 miliar yang terjadi menjelang sejumlah pengumuman penting terkait perang Iran oleh Trump.

Sebagian besar transaksi tersebut berupa posisi short atau taruhan bahwa harga minyak akan turun. Posisi itu dilakukan di Intercontinental Exchange (ICE) dan Chicago Mercantile Exchange (CME) sebelum Trump mengumumkan penundaan serangan maupun gencatan senjata yang sempat menekan harga minyak dunia.



Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

Reporter: Kamila Meilina