Harita Nickel: Pelemahan Rupiah Untungkan Perusahaan

Harita Nickel
Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) di atap fasilitas perkantoran dan mess karyawan Harita Nickel di Obi.
30/6/2026, 16.55 WIB

PT Trimegah Bangun Persada Tbk (NCKL) atau Harita Nickel menyebut kenaikan nilai tukar dolar AS atau pelemahan rupiah justru menguntungkan perusahaan. 

Direktur Keuangan Harita Nickel Suparsin Darmo Liwan menyebut hal ini disebabkan karena secara umum, pendapatan perusahaan itu bersumber dari pengolahan nikel yang 100% dari ekspor dan perolehan penjualan dalam mata uang dolar AS.

“Sehingga dengan meningkatnya nilai tukar US Dolar akan menguntungkan perseroan,” ujarnya dalam Public Expose tahunan, Selasa (30/6).

Dia juga menyampaikan keuntungan kurs ini juga dirasakan perusahaan dari sisi penambangan nikel. Sebab meskipun pembayaran atas penjualan nikel diterima dalam rupiah, namun penetapan harga bijih mengikuti nilai dolar AS. Hal ini selaras dengan harga patokan mineral yang mengikuti harga LME.

“Jadi harganya mengikuti dolar AS yang kemudian dirupiahkan, secara kesimpulan kenaikan US Dollar justru menguntungkan perusahaan,” ujarnya.

Dalam kesempatan tersebut, Suparsin mengatakan volume penjualan perusahaan di sepanjang 2025 mencapai 30,59 juta metrik ton basah (wmt), angkanya naik 29% dibandingkan tahun sebelumnya yang hanya sebesar 23,75 juta wmt.

Kenaikan volume penjualan juga terjadi pada kuartal pertama 2026 yang mencapai 9,15 wmt, naik 67% dibandingkan periode yang sama sebelumnya 5,49 juta wmt.

“Kenaikan ini utamanya disebabkan oleh peningkatan pasokan bijih ke proyek RKEF Karunia Permai Sentosa (KPS), sejalan dengan meningkatnya jumlah jalur produksi selama periode tersebut,” ucapnya.

Selain itu, lonjakan penjualan juga disebabkan oleh dimulainya operasional PT Obi Nickel Cobalt (PT ONC) pada 2024. Hal ini berkontribusi pada peningkatan volume penjualan di 2025.

Stok Sulfur Aman

Tak hanya kinerja perusahaan, Suparsin menyebut perusahaan tidak mengalami krisis pasokan sulfur di tengah kondisi geopolitik yang memanas. Dia mengatakan hal ini disebabkan karena perusahaan melakukan diversifikasi pasokan. 

“Kami memiliki diversifikasi suplier sulfur sehingga tidak hanya terkonsentrasi pada satu negara atau Timur Tengah saja. Sampai saat ini stok kami tetap aman dan cukup hingga Oktober (2026),” kata Suparsin dalam Public Expose Tahunan, Selasa (30/6).

Perang yang terjadi di antara AS, Iran, dan Israel melumpuhkan kegiatan perekonomian di kawasan timur tengah dalam beberapa bulan terakhir. Salah satu komoditas yang terdampak adalah sulfur yang mengalami kenaikan harga. Timur Tengah merupakan salah satu kawasan penghasil sulfur terbanyak di dunia. Sulfur merupakan salah satu komponen yang digunakan dalam proses hilirisasi nikel.

Dia menyebut sebelum perang Timur Tengah berlangsung, perusahaan sudah menyadari harga sulfur terus mengalami kenaikan sejak akhir 2025. “Jadi dari akhir 2025 kami sudah terus memastikan pasokan sulfur dan stok di site kami itu cukup, bahkan bisa mencapai minimal 3 sampai 4 bulan produksi kebutuhan produksi,” ujarnya.

Suparsin mengatakan dengan persiapan tersebut maka perusahaan tidak terlalu terdampak, baik dari segi pasokan maupun tren harga yang terus naik.

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

Reporter: Mela Syaharani