Harga Minyak Naik ke US$ 91 per Barel Dampak Babak Baru Ketegangan AS-Iran
Harga minyak acuan dunia naik dalam dua sesi perdagangan berturut-turut. Ini terjadi usai dimulainya babak baru ketegangan atau konflik antara AS dan Iran di Timur Tengah. Kondisi tersebut memicu kekhawatiran gangguan terhadap aliran energi melalui Selat Hormuz akan berlangsung lebih lama.
Harga minyak jenis Brent naik 0,6% menjadi US$ 91,06 per barel pada pukul 08.05 waktu Singapura. Sementara itu, West Texas Intermediate (WTI) naik 1% menjadi US$ 86,61 per barel.
Kenaikan tersebut ditopang oleh aksi pasukan AS yang menyerang sebuah pulau di kawasan Hormuz. Hal ini dibalas Iran dengan serangan ke Uni Emirat Arab (UEA) dan Yordania. Aksi tersebut menjadi momentum penembakan pertama antara kedua pihak dalam sebulan terakhir.
Meski Iran menargetkan pangkalan udara AS di Yordania, namun rudal tersebut berhasil dicegat dan dihancurkan sebelum menimbulkan kerusakan. Presiden AS Donald Trump mengatakan AS akan merespons serangan Iran, sehingga meningkatkan prospek terjadinya siklus eskalasi militer.
Harga minyak mentah mengalami tren fluktuatif di tengah upaya perdamaian yang belum konsisten agar bisa mengakhiri perang, termasuk janji AS untuk melumpuhkan perekonomian Iran. Trump menepis kekhawatiran bahwa konflik tersebut menguras kekuatan militer AS dan menyebutnya sebagai perang kecil.
“Kami masih memperkirakan harga minyak mentah akan bergerak lebih tinggi karena belum ada tanda-tanda bahwa lalu lintas normal melalui Selat Hormuz akan kembali dalam waktu dekat,” kata Kepala Strategi Komoditas Global di TD Securities, Bart Melek dikutip dari Bloomberg, Selasa (1/9).
Sejumlah pejabat AS dan Iran mengatakan konflik tersebut akan berlangsung selama berbulan-bulan. Permusuhan di Timur Tengah, serta perang antara Rusia dan Ukraina, juga mendorong harga produk olahan minyak naik lebih tajam dibandingkan harga minyak mentah seiring pasokan yang semakin ketat, khususnya solar (diesel).
Meski ada ketegangan baru, Bloomberg melaporkan masih ada kegiatan ekspor minyak yang berlangsung melalui Selat Hormuz. Ekspor ini sering kali menggunakan kapal tanker yang mematikan transpondernya untuk menghindari deteksi.
Produsen minyak di Teluk Persia, termasuk UEA, Arab Saudi, Kuwait, dan Irak, masih berhasil mengeluarkan sebagian minyak mereka melalui jalur tersebut.
Meski demikian, kapal-kapal yang melintasi jalur perairan tersebut menghadapi ancaman serangan yang terus-menerus. Sebuah kapal tanker dilaporkan terkena tiga proyektil tak dikenal saat bergerak keluar melalui Selat Hormuz di dekat Oman. Insiden tersebut menegaskan besarnya risiko terhadap pelayaran di kawasan tersebut.