Pertamina Masuk Ekosistem Baterai, Bidik Bisnis BESS hingga Daur Ulang Baterai
PT Pertamina (Persero) memperluas peluang bisnis rendah karbon melalui kerja sama dengan PT Industri Baterai Indonesia (IBC) melalui pengembangan Battery Energy Storage System (BESS) dan berbagai teknologi pendukung ekosistem baterai.
Langkah tersebut ditandai dengan penandatanganan Memorandum of Understanding (MoU) tentang Sinergi Pengembangan Ekosistem Industri Baterai Terintegrasi di fasilitas PT Contemporary Amperex Technology Indonesia Battery (CATIB), Karawang, Jawa Barat, Senin (31/8).
“Kami melihat peluang besar untuk dikomersialisasikan, mulai dari pengembangan BESS, battery recycling, pengembangan industri baterai masa depan, hingga optimalisasi fasilitas riset dan laboratorium baterai yang terintegrasi,” kata SVP Technology Innovation & Implementation Pertamina, Hana Timoti, dalam siaran pers dikutip Rabu (2/9).
Dalam pengembangan BESS, ada dua peluang yang bisa dijajaki baik berupa Portable Power Station maupun Stationary Power Station. Dia menyebut potensi pengembangan BESS dapat menjadi bagian dari solusi penyimpanan energi sekaligus membuka peluang bisnis Pertamina pada rantai nilai energi masa depan.
Pengembangan Teknologi Baterai Masa Depan
Selain BESS, penjajakan lainnya mencakup pengembangan teknologi baterai masa depan, pengelolaan baterai bekas melalui daur ulang dan guna ulang (recycle and reuse), serta potensi pemanfaatan material turunan migas Pertamina untuk mendukung rantai pasok baterai.
Direktur Pengembangan Bisnis IBC Niko Chandra mengatakan penjajakan bersama Pertamina diharapkan dapat memperluas pemanfaatan kapabilitas industri baterai yang tengah berkembang di Indonesia.
“Kolaborasi dengan Pertamina membuka peluang besar untuk mengintegrasikan kekuatan dua perusahaan nasional dalam membangun ekosistem baterai yang kokoh dan berkelanjutan. Kami percaya sinergi ini akan memberikan kontribusi nyata bagi percepatan transisi energi Indonesia sekaligus memperkuat posisi Indonesia di peta industri baterai global,” ujar Niko.
IBC bersama konsorsium CATL–Brunp–Lygend (CBL) saat ini juga tengah mengembangkan industri baterai terintegrasi, termasuk melalui PT Contemporary Amperex Technology Indonesia Battery (CATIB) di Karawang. Fasilitas manufaktur baterai tersebut telah mulai beroperasi secara bertahap sejak Juli 2026 dan turut memiliki kapabilitas pengembangan produk BESS.
Bagi Pertamina, penjajakan pengembangan ekosistem baterai menjadi bagian dari upaya membuka peluang pertumbuhan baru yang melengkapi bisnis energi eksisting, sekaligus memperluas portofolio bisnis rendah karbon dalam mendukung transisi dan ketahanan energi Indonesia.