Harga Minyak Brent Capai US$ 99 per Barel Usai AS Serang Kapal Tanker Iran

Reuters
Kapal tanker berlayar di Teluk, dekat Selat Hormuz, seperti terlihat dari bagian utara Ras al-Khaimah, dekat perbatasan dengan pemerintahan Musandam Oman, di tengah konflik AS-Israel dengan Iran, di Uni Emirat Arab, pada 11 Maret 2026.
9/9/2026, 09.44 WIB

Harga minyak jenis Brent bergerak mendekati level US$ 100 per barel setelah Amerika Serikat (AS) menyerang kapal-kapal tanker Iran di dekat pusat ekspor Pulau Kharg dan di Teluk Oman. Serangan tersebut memicu kekhawatiran akan gangguan yang lebih besar terhadap aliran energi melalui Selat Hormuz.

Harga Brent naik 1,5% menjadi US$ 99,37 per barel pada pukul 09.52 waktu Singapura. Sementara itu, minyak West Texas Intermediate (WTI) naik 1,5% menjadi US$ 94,40 per barel.

Harga minyak telah melonjak lebih dari 60% sepanjang tahun ini dan mendekati level US$ 100 per barel untuk pertama kalinya sejak akhir Juli. Harga gas alam Eropa juga naik untuk sesi perdagangan keempat setelah serangan AS tersebut. 

Produk olahan seperti diesel bahkan mencatat kenaikan lebih besar tahun ini. Hal tersebut seiring konflik Timur Tengah meluas hingga ke Laut Merah di dekat Arab Saudi, di tengah perang Rusia-Ukraina yang masih berlangsung.

Militer AS telah menghancurkan lima kapal tanker Iran yang mengangkut minyak mentah. Menurut Komando Pusat AS (US Central Command), hal ini dilakukan sebagai respons atas upaya penyerangan kapal perang Angkatan Laut AS menggunakan rudal balistik.

Kapal-kapal tanker Iran yang dihancurkan tersebut merupakan milik Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC). Serangan itu menandai eskalasi dalam kampanye AS terhadap Teheran, yang sebelumnya telah mencakup blokade laut dan secara signifikan mengurangi ekspor minyak Iran.

“Ketika mereka mencoba menyerang kapal Angkatan Laut AS, mereka sendiri akan terkena serangan. Setiap kali mereka melakukan atau mencoba melakukan hal tersebut, mereka akan kehilangan kapal tanker,” kata Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio dikutip dari Bloomberg, Rabu (9/9).

Serangan AS sebelumnya terhadap Pulau Kharg berfokus pada aset-aset militer. Namun, Presiden AS Donald Trump Telah mengancam akan menargetkan fasilitas minyak dan beberapa kali mengemukakan kemungkinan untuk mengambil alih pusat ekspor tersebut.

Tak tinggal diam, Teheran membalas dengan menembakkan rudal ke Yordania dan memperingatkan kapal-kapal yang berada di Teluk Persia. Seluruh awak kapal tanker yang berada di dekat dermaga Kuwait dan Bahrain diminta untuk segera meninggalkan kapal mereka, baik yang sedang berlabuh maupun bersandar di dermaga, karena akan menjadi sasaran.

Serangan AS tersebut terjadi setelah serangan baru yang dilakukan kelompok Houthi terhadap fasilitas energi di Arab Saudi bagian selatan. Serangan tersebut memaksa sejumlah fasilitas dihentikan operasionalnya. 

"Dalam pola yang biasa terjadi, AS dan Iran terus melakukan serangan balasan dan saling memberikan peringatan,” kata Managing Director bidang komoditas di Bannockburn Capital Markets, Darrell Fletcher, dikutip dari Bloomberg, Rabu (9/9).

Sebelum perang AS-Iran berlangsung, sekitar seperlima minyak dunia dan gas alam cair (LNG) dikirim melalui Selat Hormuz kepada konsumen global. Sebagian minyak mentah masih diekspor melalui jalur perairan sempit tersebut, sering kali menggunakan kapal tanker yang mematikan transpondernya. Namun, kapal-kapal tersebut tetap menghadapi ancaman serangan.

Di sisi lain, kembali meningkatnya pembelian minyak oleh Cina turut memperketat pasar minyak global dan mendorong kenaikan harga sejumlah jenis minyak mentah.

Peningkatan pembelian tersebut membalikkan tren beberapa bulan terakhir, ketika para pengolah minyak memanfaatkan persediaan yang melimpah untuk membatasi impor dan melindungi diri dari kenaikan harga yang tinggi.

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

Reporter: Mela Syaharani