Kementerian ESDM Tata Database, Imbas Pemangkasan Kuota Subsidi LPG
Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) akan menata basis data (database) penerima subsidi liquified petroleum gas (LPG). Hal ini dilakukan untuk antisipasi jebolnya subsidi dan pemangkasan kuota volume tahun depan.
Badan Anggaran DPR RI juga telah menetapkan volume subsidi LPG tabung 3 kilogram (kg) sebanyak 8 juta ton, lebih rendah 10,56% dibandingkan usulan 8,94 juta ton. Besaran volume subsidi tahun depan pada akhirnya sama dengan penetapan tahun ini yakni sebanyak 8 juta ton.
“Nanti ditata, makanya penetapan volume subsidi LPG tetap sama dengan lalu, agar penataan itu bisa bermanfaat untuk mengendalikan subsidinya,” kata Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi Laode Sulaeman saat ditemui di Kementerian ESDM, Rabu (30/9).
Dia menyebut Kementerian ESDM sebetulnya sudah mulai menata data subsidi sejak dua tahun lalu. Kini penataan tersebut akan dilanjutkan dengan penggabungan dengan data Dukcapil dan MyPertamina, serta Kepolisian.
Tak hanya data, untuk mengantisipasi jebolnya kuota subsidi imbas pemangkasan volume juga dilakukan melalui konversi rumah tangga yang sebelumnya menggunakan LPG menjadi jaringan gas (jargas).
Dia menyampaikan pemerintah telah menyelesaikan pemasangan jargas 115 ribu ke sambungan rumah tangga, dan akan bertambah hingga 1 juta sambungan.
Meski ada opsi pemanfaatan gas alam terkompresi (CNG) sebagai solusi mengantisipasi jebolnya kuota subsidi, dia menyebut hal itu belum akan dilakukan.
“Tidak, kami belum melihat (potensi mendorong penggunaan), kami belum sampai berbicara khusus mengenai CNG,” ujarnya.
Selain CNG Laode juga mengatakan Kementerian ESDM belum membahas terkait pengalihan subsidi energi menjadi bantuan langsung tunai (BLT) .
“Belum dibahas, kami saat ini masih mencari cara bagaimana menata agar subsidi tidak menjadi beban yang memberatkan,” ucapnya.
Anggaran Subsidi LPG 2026 Diprediksi Jebol
Penurunan volume subsidi dari usulan RAPBN dan kesepakatan DPR ini terjadi di tengah proyeksi realisasi penyaluran subsidi LPG 3 kilogram (kg) melampaui kuota atau jebol tahun ini.
“Untuk 2026 prognosisnya (hingga akhir tahun) sebesar 8,677 juta mt,” kata Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi Laode Sulaeman dalam rapat dengar pendapat Komisi XII DPR RI, Rabu (26/8).
Dengan angka tersebut, maka diprediksi kuota LPG subsidi jebol 677 ribu mt atau 8,46%. Penghitungan prognosis ini berdasarkan perhitungan rata-rata penyaluran harian tiap kabupaten dan kota pada periode Januari-Juli.
Senada, Wakil Direktur Utama PT Pertamina (Persero) Oki Muraza juga mengatakan berdasarkan prediksi perusahaan, prognosa penyaluran subsidi Pertalite juga melampaui target tahun ini, di atas 8,5%.
“Untuk LPG tabung 3 kg pendorong utamanya adalah pertumbuhan penduduk nasional serta pertumbuhan ekonomi yang serupa. Selain itu kebutuhan menjaga ketersediaan menjelang periode natal dan tahun baru (2027),” ujar Oki dalam kesempatan yang sama.
Oki menyebut menyikapi potensi jebolnya kuota subsidi, Pertamina melakukan pengendalian penyaluran melalui pendaftaran 79,7 juta nomor induk kependudukan (NIK) konsumen dalam sistem subsidi tepat. Perusahaan juga melakukan pemadanan data tersebut dengan data penduduk dan pencatatan sipil serta Data Tunggal Sosial dan Ekonomi Nasional (DTSEN).