Bangun Pabrik Bahan Baku Beras Bervitamin, Bulog Kucurkan Rp 10 Miliar
Perum Bulog berencana untuk membangun pabrik produksi premix kernel senilai Rp 10 miliar. Pembangunan pabrik tersebut guna mengurangi impor bahan campuran beras fortifikasi.
Kernel fortifikasi adalah tepung beras yang dicampur dengan vitamin dan zat gizi lain. Saat ini Bulog masih mengimpor kernel dari pabrik DSM Nutritional Products di Thailand. Bahan tersebut lalu dicampur beras lokal sehingga menjadi produk beras fortifikasi.
Direktur Pengembangan Bisnis Bulog Imam Subowo mengatakan adanya pabrik akan menekan biaya produksi kernel hingga 40%. Saat ini harga impor bahan baku beras bergizi itu mencapai Rp 100 ribu per kilogram. Sedangkan vitamin yang menjadi campuran beras masih diimpor oleh Bulog.
Dana investasi pabrik akan berasal dari kocek Bulog. Proses pembangunannya diperkirakan memakan waktu 6 hingga 9 bulan. "Tahun depan, targetnya harus sudah ada (pabrik pengolah kernel)," kata Imam di kantornya, Jakarta, Rabu (11/12).
(Baca: Genjot Produksi Beras Bervitamin, Bulog Tambah 20 Mesin Pengolah)
Bulog saat ini mengolah beras bervitamin dengan perbandingan 99 kilogram beras dengan 1 kilogram kernel fortifikasi. Artinya, dalam 1 kilogram beras fortifikasi terdapat 1% produk beras kernel impor.
Namun Imam belum bisa memperkirakan kebutuhan kernel untuk tahun depan. Sebab, distribusi beras fortifikasi bergantung pada permintaan di setiap daerah.
Selain itu, penyaluran Bantuan Pangan Non Tunai (BPNT) juga berpengaruh terhadap penyediaan beras fortifikasi. Tahun depan, Bulog menargetkan porsi beras fortifikan bagi penerima manfaat mencapai 10-20% dari total penyaluran BPNT.
(Baca: Bos Bulog Targetkan Rapor Keuangan Biru Tahun Depan, Ini Starteginya)
Ini artinya, Bulog memerlukan 150 ribu-300 ribu beras fortifikasi jika total penyaluran beras BPNT 1,5 juta ton. Oleh karena itu, BUMN tersebut belum berencana membangun pabrik kernel dalam jumlah besar lantaran belum memiliki kepastian kebutuhan.
"Jadi kami tidak bisa bangun pabrik besar lalu mangkrak," ujar Imam.