Sistem Resi Gudang Belum Efektif, Kemendag Tingkatkan Peran SDM

Arief Kamaludin|KATADATA
Daging beku sapi impor asal Australia di Gudang Bulog, Kelapa Gading, Jakarta Utara.
Penulis: Michael Reily
Editor: Ekarina
8/2/2018, 14.51 WIB


Implementasi pembiayaan melalui Sistem Resi Gudang (SRG) belum efektif. Hal itu diakui Kementerian Perdagangan lantaran Sumber Daya Manusia (SDM) pegelola serta pengguna sistem tersebut belum optimal.

“SRG harus kita akui belum berhasil terutama karena SDM,” kata Enggar di Auditorium Kementerian Perdagangan, Jakarta, Rabu (7/2).

SRG sudah disosialisasikan sejak Maret 2014 . Sistem ini bertujuan untuk membantu petani sebagai sarana yang memungkinkan petani menyimpan hasil produksi di gudang dan penjualannya bisa ditunda dengan sistem resi. Sistem ini bisa sangat bermanfaat pada musim panen, dimana petani biasanya mengalami penurunan harga komoditas yang dijual.

(baca : Stok di Bawah Batas Aman, Bulog Bakal Simpan Beras Impor di Gudang)

Di samping itu, penerapan SRG juga dinilai dapat membantu menghidupkan perekonomian daerah, mendorong pertumbuhan pelaku usaha di daerah serta sebagai sarana pengendalian stok nasional. Namun sayang, SRG hingga saat ini bisa diimplementasikan secara maksimal.

Data Kemendag menunjukan, pada 2015 setidaknya terdapat sekitar 25 gudang SRG dari total 117 gudang yang  mangkrak karena belum dapat beroperasi. Kalaupun beroperasi, gudang SRG kemungkinanan hanya terisi 50% dari total kapasitas gudang antara sebanyak 1.000 ton hingga 1.500 ton produk komoditas pertanian.

Enggar pun menggungkapkan bakal melakukan pembenahan dengan penambahan SDM. “Kami serahkan kepada Pemerintah Daerah dan kami juga akan menunjuk pengelola,” jelasnya.

(baca juga : Bulog : 281 Ribu Ton Beras Impor Siap Datang Bertahap)

Selain itu, dia berharap sistem pengelolaan SRG nantinya bisa ditingkatkan lewat peran teknologi digital. Sehingga selain untuk penyimpanan, gudang SRG yang berkualitas Standar Nasional Indonesia (SNI) nantinya juga bisa menjadi sarana pemasaran komoditas.

Menaggapi rencana optimlaisasi SRG, Wakil Ketua Komite Ekonomi dan Industri Nasional (KEIN) Arif Budimanta juga menuturkan kinerja SRG seharusnya bisa dimaksimalkan seiring dengan tingkat kebutuhannya yang tinggi.

Salah satu yang dilakukan adalah dengan sosialisasi di masyarakat dan petugas pengelola SRG. “Pelaksanaan paling penting, produktivitas petani tidak diimbangi kondisi SRG di lapangan,” ujar Arif.

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

Reporter: Michael Reily