Susi Pudjiastuti: Jepang dan Rusia Incar Investasi Perikanan

Arief Kamaludin|KATADATA
Penulis: Muhammad Firman
Editor: Pingit Aria
9/12/2016, 12.30 WIB

Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti menyatakan bahwa pemerintah mendorong investasi asing di sektor perikanan. Saat ini, menurutnya ada dua Negara yang mengincar investasi di sektor yang digawanginya tersebut. “Jepang dan Rusia yang paling aktif,” kata Susi di kantornya, kemarin.

Jepang, menurut Susi, berminat menanamkan modal dalam pembangunan enam pelabuhan perikanan. Selain itu, pembangunan sarana budidaya tuna di Sabang juga tengah dijajaki. “Kapan realisasinya? Semoga tahun depan bisa mulai”, kata Susi. (Baca juga: Kadin Desak Industrialisasi Perikanan Libatkan Banyak Pihak)

Sementara Rusia sudah menyatakan minat untuk membangun unit pengolahan dan cold storage berkapasitas 300 ton di Pelabuhan Perikanan Untia yang berlokasi di kawasan Industri Makassar. Pelabuhan yang baru diresmikan Presiden Jokowi akhir November lalu tersebut akan mendukung aktifitas nelayan di zona Wilayah Pengelolaan Perikanan (WPP) 713, yang meliputi Selat Makassar, Teluk Bone, Laut Flores dan Laut Bali.

Berdasarkan keterangan Susi, WPP 713 memiliki Potensi sumber daya ikan hingga 929.700 ton per tahun. Jokowi sendiri mengharapkan pelabuhan ini bisa memberikan kenaikan target ekspor perikanan Maksasar sebanyak 10 persen dari produk domestik bruto (PDB) perikanan nasional.

Tak hanya di Makassar, perairan Sulawesi Selatan secara umum juga menyimpan potensi perikanan yang luar biasa. Hingga agustus 2016, volume ekspor perikanan Sulawesi Selatan meningkat hingga 49,93 persen menjadi 12.850 ton atau senilai US$ 86,8 juta. Sulawesi Selatan dikenal dengan ekspor komoditas udang, kerapu, makarel, kepiting/rajungan dan tuna, tongkol serta cakalang. (Baca juga: Komitmen Jokowi Lindungi Industri Perikanan dan Para Nelayan)

Selain itu, ekspor perikanan dari Bali juga tumbuh cukup pesat. Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan, ekspor komoditas jenis tuna, tongkol dan cakalang dari Bali tahun ini meningkat hingga 3.773 ton atau senilai US$ 20,1 juta. Angka itu tumbuh cukup signifikan dibanding tahun 2015 yang hanya 2.366 ton atau senilai US$ 14,4 juta.

Bali dikenal mengekspor beberapa komoditas perikanan seperti, tuna, skipjack, marlin, ikan kaleng, kerapu segar dan hidup, kepiting, dan lobster. Produk perikanan itu paling banyak diekspor ke Jepang, Cina, Korea, kawasan Amerika, dan beberapa negara Eropa.

Reporter: Muhammad Firman