Mendag Targetkan Perundingan Tarif Resiprokal Indonesia-AS Rampung November 2025
Menteri Perdagangan Budi Santoso menargetkan penyelesaian perundingan kebijakan tarif resiprokal yang ditetapkan Amerika Serikat rampung bulan ini. Tarif resiprokal merupakan kebijakan yang diumumkan oleh Presiden AS Donald Trump pada April lalu. Indonesia saat ini mendapatkan tarif 19%.
Pekan depan pemerintah Indonesia akan kembali berunding dengan AS. “(Target)nya pertengahan bulan ini ya, November,” kata Budi saat ditemui di hutan CEO Insight di Hutan Kota Plataran, Jakarta, Selasa (4/11).
Budi menyampaikan penyelesaian perundingan tarif antara Indonesia-AS ini memang lebih lama dibandingkan negara tetangga seperti Malaysia dan Kamboja. “Cukup alot tapi mudah-mudahan kita lebih baik (hasilnya),” ujarnya.
Pemerintah Indonesia memastikan keputusannya akan saling menguntungkan. Salah satu yang masih menggantung adalah permintaan Indonesia terkait pembebasan tarif 0% bagi komoditas yang tidak diproduksi AS namun diekspor ke negeri Paman Sam.
Tarif Tembaga 0%
Menteri Investasi dan Hilirisasi atau Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal Rosan Roeslani sebelumnya menyebut Indonesia telah memperoleh pembebasan tarif resiprokal dari AS untuk komoditas tembaga.
“Ada beberapa barang atau komoditas yang tidak dihasilkan AS itu tarifnya bisa menjadi kurang (dari 19%). Kebetulan untuk tembaga sudah disetujui (AS) menjadi 0%,” katanya, Rabu (6/8).
Selain tembaga, pemerintah juga sedang meminta penurunan tarif untuk beberapa komoditas komoditas seperti nikel. Dia menyebut ada sinyal permintaan penurunan tarif untuk nikel dan lainnya juga akan disetujui.
“Mungkin tidak 0%, tapi jauh di bawah 19%. Itu hal positif yang ingin saya bagikan,” ujarnya.