Aprindo Soroti Dampak Barang Impor, Pertumbuhan Ritel Diramal Tertahan di 6%
Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo) memproyeksikan pertumbuhan industri ritel pada 2025 akan tertahan di kisaran 6%, terdampak oleh tekanan di sektor garmen dan melemahnya daya beli pada pertengahan tahun.
Ketua Aprindo Solihin memproyeksikan semua sektor ritel akan tumbuh antara 6%–9% secara tahunan sepanjang 2025, kecuali ritel garmen. Menurutnya, pengetatan impor garmen akan membantu performa industri ritel nasional.
"Pertumbuhan di ritel garmen tahun ini berat, walaupun sudah ada pergeseran akibat pengetatan impor garmen. Selama arus impor garmen deras, peritel garmen nangis bombay," ujar Solihin kepada Katadata.co.id, Jumat (14/11).
Solihin menambahkan, pertumbuhan industri ritel tertahan akibat pelemahan permintaan pasca-Ramadan 2025. Permintaan pada pertengahan tahun seharusnya meningkat selama periode liburan sekolah.
Berdasarkan data Bank Indonesia, Indeks Penjualan Ritel (IPR) pada Juni 2025 hanya tumbuh 1,3% secara tahunan, sementara pada Maret 2025 tercatat pertumbuhan tertinggi sembilan bulan pertama, yakni 5,5%.
Solihin memperkirakan pertumbuhan ritel pada Oktober 2025 kembali melemah karena minimnya transaksi, namun kuartal terakhir diproyeksi meningkat hingga 9%–12%. Ia optimistis transaksi ritel pada November–Desember 2025 akan tumbuh antara 12%–15% seiring musim liburan Natal dan Tahun Baru.
"Kami berharap pertumbuhan ritel pada kuartal terakhir setidaknya 10%. Namun pertumbuhan ritel sepanjang tahun ini sulit mencapai 10% tanpa lonjakan signifikan di akhir tahun," kata Solihin.
Bappenas Dorong Digitalisasi
Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) mendorong pelaku usaha ritel melakukan digitalisasi dan berjualan daring untuk mendorong perekonomian.
Direktur Perdagangan, Investasi dan Kerja Sama Ekonomi Internasional Bappenas, P.N. Laksmi Kusumawati mengatakan digitalisasi dapat meningkatkan efisiensi operasi toko melalui optimalisasi rantai pasok, peningkatan keamanan, dan pencegahan kerugian. Kontribusi transaksi di lokapasar diperkirakan naik menjadi 24% pada 2027.
"Nilai transaksi global di lokapasar diproyeksikan mencapai US$ 1,4 triliun pada 2022–2027, dengan 64% potensi berasal dari negara berkembang," ujar Laksmi di Hotel Borobudur, Rabu (14/8).
Merujuk data Badan Pusat Statistik (BPS), transaksi e-commerce kuartal II 2025 naik 7,55% secara kuartalan. Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, menyatakan peningkatan ini sejalan dengan pertumbuhan ekonomi Indonesia kuartal II 5,12% yoy dan 4,04% qtq.
Airlangga menyebutkan, jumlah transaksi belanja online pada tahun lalu mencapai 3,24 miliar kali, naik lebih dari 11 kali lipat dibandingkan 2018 yang tercatat 80 juta kali.
"Kami melihat konsumsi masyarakat semakin bergerak ke belanja online," ujarnya.