Swasembada Jadi Alasan, Pemerintah Alihkan Investasi Padat Karya ke Pertanian
Pemerintah mulai mengalihkan fokus investasi industri padat karya ke sektor pertanian demi mengejar swasembada pangan dan energi. Kementerian Investasi dan Hilirisasi berencana menyasar investor yang mau menjadikan Indonesia sebagai basis produksi produk tersebut untuk pasar domestik maupun global.
"Kami akan mencari investor-investor yang ingin masuk di sektor pertanian, baik yang berhubungan dengan pemenuhan kebutuhan pangan maupun energi pada tahun ini," kata Deputi Bidang Promosi Penanaman Modal Kementerian Investasi Nurul Ichwan di Wisma Danantara, Jumat (9/1).
Pada saat yang sama, pemerintah tidak melupakan penarikan investasi ke sektor tekstil dan alas kaki. Sebab, produk hasil kedua industri tersebut dinilai masih memiliki daya saing tinggi di pasar global. "Kami akan mendorong investasi di industri padat karya melalui sektor pertanian, tekstil, dan alas kaki pada tahun ini," ujarnya.
Mayoritas investasi yang masuk ke dalam negeri pada Januari-September 2025 masih menyasar industri padat karya. Rata-rata investasi yang dikeluarkan untuk menyerap setiap tenaga kerja pada periode tersebut mencapai Rp 733,15 juta.
Secara rinci, realisasi investasi pada sembilan bulan pertama tahun lalu mencapai Rp 1.434,3 triliun yang membuka lapangan kerja baru bagi 1,95 juta orang. Adapun sektor industri dengan nilai investasi paling tinggi adalah industri logam dasar senilai Rp 196,4 triliun.
Sebelumnya, Asosiasi Persepatuan Indonesia menyatakan banyak investor pabrik sepatu baru menahan realisasi investasinya hingga akhir 2025. Mereka menilai pemerintah belum memiliki kebijakan industri padat karya yang jelas.
Sebelumnya, Ketua Umum Aprisindo Eddy Widjanarko memandang kebijakan pemerintah cenderung berat pada kesejahteraan masyarakat. Namun, pemerintah belum menerbitkan aturan yang mendukung proses bisnis industri alas kaki di dalam negeri.
"Pemerintah belum tahu mau dibawa ke mana arah kebijakan dalam industri padat karya. Paket ekonomi 2026 yang menyinggung industri padat karya tidak ada artinya, sebab stimulus tersebut ibarat permen yang diberikan pada orang sakit," kata Eddy kepada Katadata.co.id, Jumat (10/10).