Nilai Ekspor Indonesia Ke Swiss Naik 225% Imbas Kenaikan Harga Emas
Menteri Perdagangan Budi Santoso mengatakan Swiss menjadi negara tujuan ekspor Indonesia dengan pertumbuhan tertinggi sepanjang 2025. Tahun lalu nilai ekspor ke Swiss mencapai US$ 4,9 miliar atau Rp 82,68 triliun, atau meningkat 225% dibandingkan 2024 sebanyak US$ 1,5 miliar.
Budi mengatakan mayoritas komoditas yang diekspor ke Swiss adalah perhiasan dan permata. “Emas kan harganya tinggi jadi makanya Swiss ekspornya meningkat sangat tajam,” kata Budi dalam konferensi pers capaian kinerja Indonesia 2025 dan program kerja 2026 Kementerian Perdagangan, Jumat (6/2).
Berikut rincian komoditas ekspor ke Swiss sepanjang 2025:
- Perhiasan dan pertama 96,23%
- Mesin Peralatan Listrik 1,53%
- Kendaraan dan bagiannya 0,43%
- Olahan dari buah-buahan dan sayuran 0,22%
- Alas kaki 0,21 persen
Selain Swiss, dia juga menyebut ada empat negara dengan pertumbuhan ekspor tinggi selama tahun lalu. Mulai dari Singapura 31,40%, Uni Emirat Arab 31,28%, Thailand 28,82%, dan Bangladesh 28,27%.
“Kemudian kawasan dengan pertumbuhan ekspor tertinggi yaitu di Asia Tengah 59,39%, Afrika Barat 56,66%, Eropa Barat 43,95%, Amerika Selatan 33,45%, dan Afrika Timur 32,61%,” ujarnya.
Harga Emas 2025
Sepanjang 2025 pergerakan harga emas melonjak signifikan. Databoks mencatat, pada 31 Desember 2024, harga emas Antam masih sekitar Rp1,52 juta per gram. Kemudian memasuki 2025, harganya mendadak berfluktuasi dalam tren kenaikan tajam, hingga mencapai Rp2,5 juta per gram pada akhir tahun.
Secara kumulatif, dalam setahun terakhir, yakni periode 31 Desember 2024—31 Desember 2025, harga emas Antam sudah naik sekitar 65% (year-on-year/yoy).
Menurut Bank Dunia, kenaikan harga emas pada 2025 dipengaruhi ketidakpastian geopolitik. Hal ini mendorong bertambahnya permintaan akan aset-aset investasi yang dianggap aman (safe-haven), salah satunya emas.
Lonjakan harga komoditas tersebut turut dipengaruhi kebijakan moneter Amerika Serikat (AS) yang melonggar, turunnya nilai dolar AS, serta meningkatnya tren pembelian emas oleh bank sentral di berbagai negara.
Bank Dunia pun menilai tren kenaikan harga emas berpotensi berlanjut pada 2026, meski lonjakannya tidak setinggi tahun 2025.
Dalam laporan Commodity Markets Outlook edisi Oktober 2025, Bank Dunia memprediksi rata-rata harga emas global sepanjang tahun 2026 berpeluang naik 5% (yoy).
Namun, ada pula beragam faktor yang berisiko menurunkan harga emas, mulai dari kebijakan AS sampai kondisi geopolitik global.
"Risiko penurunan harga emas berasal dari kebijakan moneter AS yang lebih ketat, yang akan mengurangi daya tarik investasi emas," kata Bank Dunia dikutip dari Databoks.