Apindo: Harga Makanan Olahan dan Barang Impor Berpotensi Naik Imbas Biaya Energi

ANTARA FOTO/Indrianto Eko Suwarso/YU
Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (APINDO) Shinta W. Kamdani menyampaikan paparan saat acara Media Briefing APINDO Indonesia Quarterly Update di Jakarta, Selasa (13/5/2025).
26/3/2026, 11.24 WIB

Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) menilai kenaikan biaya energi akibat konflik Amerika Serikat (AS) dan Iran akan berdampak kenaikan harga di sejumlah sektor dan barang konsumsi, terutama produk makanan olahan dan barang dengan bahan baku impor. 

Ketua Umum Apindo, Shinta Kamdani, mengatakan dunia usaha saat ini mencermati secara serius dinamika konflik di Timur Tengah karena dampaknya mulai terasa pada struktur biaya produksi dan distribusi.

“Seperti juga dilaporkan oleh berbagai pelaku industri kenaikan harga energi global yang tercermin dari lonjakan harga minyak mulai memberikan tekanan langsung pada biaya produksi,” ujar Shinta kepada Katadata.co.id, Rabu (25/3).

Ia menjelaskan, dari sisi komponen biaya, yang paling cepat terdampak adalah biaya energi dan logistik karena keduanya sangat sensitif terhadap dinamika geopolitik global.

Selain itu, bahan baku impor juga mulai mengalami tekanan harga, terutama bagi industri yang memiliki ketergantungan tinggi terhadap impor seperti gula, gandum, kedelai, serta bahan penunjang seperti plastik untuk kemasan pada industri makanan dan minuman.

“Ketika terjadi gangguan di satu titik dalam rantai pasok global, efeknya memang dapat menjalar ke berbagai sektor karena sistem logistik dunia yang saling terhubung,” katanya.

Meski tekanan biaya mulai meningkat, pelaku usaha saat ini masih berupaya menahan kenaikan harga ke konsumen, terutama pada momentum Ramadan dan menjelang Idulfitri.

Mereka tengah melakukan berbagai langkah mitigasi mulai dari efisiensi operasional, penyesuaian rantai pasok, hingga mencari alternatif sumber bahan baku agar kenaikan biaya tidak langsung diteruskan ke konsumen.

Namun, Shinta menyebut beberapa jenis barang berpotensi mengalami kenaikan harga lebih awal, terutama produk yang memiliki ketergantungan tinggi terhadap impor dan biaya energi atau logistik.

“Seperti produk makanan olahan, barang konsumsi dengan komponen bahan baku impor, serta produk dengan rantai distribusi yang panjang,” ujarnya

Sebelumnya, harga minyak dunia terus melonjak secara bulanan dalam jumlah yang signifikan seiring dengan para investor memantau dampak perang Iran, AS, dan Israel. Perang tersebut sudah memasuki pekan keempat sejak meletus pada akhir Februari 2026. 

Perang ini telah membuat Iran memblokade Selat Hormuz, rute vital pengiriman migas dari Teluk Persia ke pasar global. Ditutupnya selat ini menghambat pengiriman pasokan migas yang memicu kekhawatiran krisis energi.

Harga minyak dunia Brent tercatat menyentuh angka US$ 99,99 per barel pada Rabu (25/3). Sementara itu harga minyak West Texas Intermediate (WTI) di kisaran US$ 88,61 per barel. 

Harga produk turunan minyak bumi telah melonjak tajam dibandingkan minyak mentah dalam beberapa pekan terakhir. Di AS, harga rata-rata solar secara nasional telah naik di atas US$ 5 per galon, mencapai level tertinggi sejak akhir 2022. Di California, bahan bakar yang digunakan untuk angkutan truk, konstruksi, dan pertanian juga naik melampaui US$ 7 per galon.



Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

Reporter: Kamila Meilina