Maskapai Penerbangan Global Naikkan Harga Tiket dan Biaya Bahan Bakar

Vecteezy.com/Pichai Pipatkuldilok
Sejumlah maskapai penerbangan global mulai menaikkan harga tiket dan biaya bahan bakar (fuel surcharge) sebagai dampak kenaikan harga minyak dunia yang disebabkan perang Iran dengan Amerika Serikat (AS) dan Israel.
Penulis: Hari Widowati
27/3/2026, 16.18 WIB

Sejumlah maskapai penerbangan global menaikkan harga tiket dan biaya tambahan untuk bahan bakar (fuel surcharge) sebagai dampak kenaikan harga minyak dunia yang disebabkan perang Iran dengan Amerika Serikat (AS) dan Israel. Yang terbaru adalah Cathay Pacific Airways yang akan menaikkan fuel surcharge sebesar 34% mulai April mendatang.

Ini merupakan kenaikan kedua yang dilakukan Cathay dalam dua pekan terakhir. Perusahaan menyebut tekanan perang di Timur Tengah yang memengaruhi harga minyak dunia menjadi pertimbangan maskapai penerbangan Hong Kong tersebut.

Menurut laporan South China Morning Post (SMCP), Cathay menyatakan langkah tersebut diambil setelah harga bahan bakar pesawat jet melonjak sehingga lindung nilai (hedging) yang dilakukan perusahaan tidak lagi cukup untuk memitigasi dan menutup biaya yang disebabkan kenaikan harga bahan bakar itu. Biaya bahan bakar menyumbang 30% dari biaya operasi perusahaan pada 2025.

Pada pertengahan Maret, sejumlah maskapai penerbangan di Asia dan Eropa telah mengumumkan kenaikan harga tiket, fuel surcharge, maupun menyesuaikan jadwal penerbangan mereka setelah konflik di Timur Tengah mendorong kenaikan harga avtur dan mengganggu rute-rute penerbangan utama.

Qantas Airways, Scandinavian Airlines (SAS), dan Air New Zealand telah mengumumkan kenaikan harga tiket. Menurut laporan Reuters, Air New Zealand mengungkapkan kenaikan harga bahan bakar pesawat sangat signifikan dari US$ 80-90 per barel sebelum perang Iran dengan AS dan Israel, menjadi US$ 150-200 per barel.

Air New Zealand juga menunda pengumuman prospek finansial perusahaan untuk tahun fiskal 2026 karena ketidakpastian yang disebabkan konflik di Timur Tengah.

"Level kenaikan (harga bahan bakar pesawat jet) ini membutuhkan respons untuk mempertahankan stabilitas dan keandalan operasional kami," ujar seorang juru bicara Scandinavian Airlines (SAS), seperti dikutip Reuters. Ia menyatakan maskapai penerbangan itu untuk sementara telah menaikkan harga tiket.

Maskapai penerbangan lainnya, seperti Lufthansa dan Ryanair masih memiliki kontrak lindung nilai bahan bakar pesawat untuk mengamankan sebagian kebutuhan energinya. Finnair, yang melakukan lindung nilai untuk 80% kebutuhan energinya pada kuartal pertama tahun ini, memperingatkan bahwa konflik yang berkepanjangan bisa memengaruhi harga bahan bakar pesawat jet maupun ketersediaannya di pasaran.

Ruang Udara Semakin Terbatas Akibat Konflik Geopolitik

Lalu lintas udara di Timur Tengah juga terganggu. Menurut pantauan Flighradar24, pesawat yang menuju Dubai diperintahkan untuk bertahan di udara sebelum bisa mendarat dengan selamat karena ada ancaman rudal.

Beberapa maskapai telah menyesuaikan rute penerbangannya. Qantas Airways mempertimbangkan untuk mengalihkan sebagian kapasitas penerbangannya ke rute-rute Eropa sedangkan Cathay Pacific berencana menambah penerbangan ke London dan Zurich. Penutupan sejumlah rute membuat harga tiket di rute Asia-Eropa membumbung tinggi.

Hong Kong Airlines sebelumnya telah mengumumkan kenaikan fuel surcharge sebesar 35,2%. Air India juga secara bertahap menaikkan biaya bahan bakar untuk rute internasional maupun domestik.

International Airlines Group, induk usaha British Airways, mengatakan perusahaan tidak berencana menaikkan harga tiket dalam jangka pendek karena sudah mendapatkan pasokan energi yang dibutuhkan melalui lindung nilai. Namun, British Airways mempercepat penghentian penerbangan musim dingin ke Abu Dhabi karena meningkatnya ketidakpastian geopolitik di Timur Tengah.

Para analis menyebut kenaikan harga bahan bakar jet dan terbatasnya ruang udara bisa membatasi rencana ekspansi maskapai penerbangan dan memicu kenaikan harga tiket lebih lanjut.

Selain menghadapi harga bahan bakar jet yang lebih mahal, maskapai penerbangan global juga menghadapi tekanan dari keterbatasan ruang udara. Sejumlah maskapai penerbangan Eropa telah menghindari ruang udara Rusia sejak perang Rusia-Ukraina pecah. Dengan adanya konflik Timur Tengah, maskapai penerbangan global juga menghadapi prospek bisnis yang semakin menantang.

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.