PT Timah dan Perminas Siapkan Groundbreaking Industri Logam Tanah Jarang

ANTARA FOTO/Andri Saputra/bar
PT Timah (Persero) Tbk (TINS) akan memulai pembangunan alias groundbreaking pabrik pengolahan mineral logam tanah jarang (LTJ) atau rare earth element pada 20 Mei mendatang.
Penulis: Kamila Meilina
31/3/2026, 17.54 WIB

PT Timah (Persero) Tbk (TINS) akan memulai pembangunan alias groundbreaking pabrik pengolahan mineral logam tanah jarang (LTJ) atau rare earth element pada 20 Mei mendatang. 

Direktur Utama PT Timah (Persero) Tbk, Restu Widiyantoro, mengatakan proyek ini merupakan bagian dari program hilirisasi mineral yang sejalan dengan arahan Presiden Prabowo Subianto untuk mempercepat pengembangan industri mineral strategis nasional.

Proyek pengolahan mineral tanah jarang tersebut ditargetkan dapat menghasilkan pendapatan bagi negara dalam waktu maksimal dua tahun setelah pembangunan dimulai.

"Pak Presiden sudah memerintahkan harus monetisasi, selama paling cepat atau paling lambat dua tahun harus ada produk monetisasinya. Artinya, sudah bisa menghasilkan uang untuk negara," ungkap Restu dalam rapat dengar pendapat (RDP) bersama Komisi VI di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Selasa (31/3).

Dalam proyek ini, PT Timah akan bekerja sama dengan Perminas dalam pengembangan industri logam tanah jarang. Kerja sama tersebut mencakup pengolahan mineral ikutan timah, terutama monasit yang merupakan bahan baku utama logam tanah jarang.

Perminas Jadi Off-taker Produk Hilirisasi Logam Tanah Jarang

Dalam struktur kerja sama tersebut, PT Timah akan berperan sebagai penyedia bahan baku (feedstock) dan infrastruktur pendukung, sekaligus menjamin volume dan jadwal pasokan bahan baku agar proses hilirisasi berjalan stabil. 

Dalam proyek ini, Perminas akan berperan sebagai off-taker sekaligus pihak yang melakukan proses pengolahan dan hilirisasi logam tanah jarang hingga menjadi produk bernilai tambah.

“Karena kami adalah pemilik IUP dari mineral timah dan juga termasuk nanti asosiasi mineral ikutannya, sehingga kami akan menyiapkan ketersediaan daripada feedstock dan infrastruktur dari feedstock tersebut,” kata dia. 

Selain pengembangan LTJ, PT Timah juga terus mendorong hilirisasi produk timah. Selama ini, perusahaan telah mengembangkan berbagai produk turunan timah seperti solder, tin chemical, tin powder, tin methyl mercaptide, stannic chloride, dan dimethyl dichloride melalui entitas anak usaha di Cilegon.

Ke depan, perusahaan juga akan fokus pada pengolahan mineral ikutan timah seperti ilmenit, zirkon, dan monasit. Monasit menjadi perhatian utama karena merupakan sumber utama logam tanah jarang yang banyak dibutuhkan untuk industri teknologi, energi terbarukan, dan kendaraan listrik.

Berdasarkan hasil riset bersama Institut Teknologi Bandung (ITB), PT Timah memperkirakan potensi indikatif monasit di wilayah izin usaha pertambangan (IUP) perusahaan mencapai sekitar 1,2 juta ton. Potensi tersebut akan divalidasi lebih lanjut melalui kegiatan eksplorasi dan pengeboran di beberapa titik lokasi.



Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

Reporter: Kamila Meilina