Chandra Asri Cabut Status Force Majeure, Pasokan Petrokimia Mulai Pulih 

Chandra Asri Pacific
Ilustrasi Chandra Asri Pacific
5/5/2026, 17.14 WIB

PT Chandra Asri Pacific Tbk (Chandra Asri) resmi mencabut status force majeure yang sebelumnya diberlakukan terhadap pasokan polymer dan monomer, seiring dengan kondisi operasional yang mulai kembali stabil.

Direktur Sumber Daya Manusia dan Urusan Korporat Chandra Asri Group, Suryandi, mengatakan pencabutan status force majeure menandai langkah penting dalam memastikan keandalan pasokan industri nasional.

“Sebagai mitra pertumbuhan industri Indonesia, prioritas kami adalah memastikan industri domestik tetap memperoleh bahan baku yang dibutuhkan,” ujar Suryandi dalam keterangannya, Selasa (5/5). 

Ia menyampaikan, keputusan tersebut diambil setelah berbagai langkah strategis berhasil dijalankan untuk menjaga kesinambungan produksi di tengah tekanan rantai pasok global. 

Dengan membaiknya kondisi operasional, Chandra Asri kini fokus memperkuat kapasitas produksi dan memastikan pemenuhan kebutuhan pasar domestik.

Masih Hadapi Kendala Logistik dan Biaya

Sejumlah upaya dilakukan untuk menjaga pasokan, mulai dari mengamankan sumber bahan baku alternatif dari berbagai negara, mengoptimalkan fasilitas kilang di Singapura, hingga memperluas pengadaan bahan baku dari Amerika Serikat. Langkah ini ditempuh untuk memastikan kebutuhan industri dalam negeri tetap terpenuhi.

Namun demikian, diversifikasi pasokan tersebut diakui menghadirkan tantangan tersendiri, terutama dari sisi logistik dan biaya. Pengiriman bahan baku dari Amerika Serikat memakan waktu lebih lama, yakni sekitar 50–70 hari, dibandingkan pasokan dari Timur Tengah yang berkisar 15–20 hari. Selain itu, harga naphta dari Amerika Serikat juga lebih tinggi, yakni sekitar US$150–200 per metrik ton di atas harga dari Timur Tengah.

Meski menghadapi tekanan biaya, perusahaan disebut tetap memprioritaskan kebutuhan domestik di tengah dinamika global. Dalam rangka meningkatkan keandalan pasokan ke depan, Chandra Asri juga mengoptimalkan produksi internal dengan memprioritaskan ethylene dari fasilitas olefin cracker untuk kebutuhan polymer plant.

Kebijakan itu diharapkan dapat mendorong optimalisasi produksi polypropylene (PP) dan polyethylene (PE), yang menjadi bahan baku penting bagi berbagai sektor industri, seperti kemasan, otomotif, konstruksi, logistik, kesehatan, hingga barang konsumsi.

Selain itu, Perseroan juga memperkuat kesinambungan pasokan melalui dukungan fasilitas grup di Singapura, khususnya untuk pasokan monomer dan ethylene. Sinergi ini dinilai menjadi bagian dari strategi model bisnis terintegrasi untuk meningkatkan fleksibilitas operasional dan respons terhadap kebutuhan pasar.

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

Reporter: Kamila Meilina