Pengusaha: Daya Beli dan Investasi Jadi Kunci Pemulihan Industri di Semester II

ANTARA FOTO/Muhammad Bagus Khoirunas/sg
Foto udara truk terjebak kemacetan saat pemberlakuan buka tutup perbaikan Jalan Raya Bojonegara, Kabupaten Serang, Banten, Selasa (7/7/2026). Kementerian Pekerjaan Umum mengalokasikan anggaran APBN senilai Rp138 miliar untuk perbaikan jalan rusak sepanjang 31,42 kilometer dari Bojonegara-Serdang-Merak yang bertujuan untuk menunjang kelancaran akses logistik kendaraan berat menuju kawasan industri, tambang, hingga pelabuhan dan ditargetkan rampung pada tahun 2027.
13/7/2026, 11.56 WIB

Kinerja sektor industri diproyeksikan membaik pada paruh kedua 2026, dibandingkan semester sebelumnya. Namun, pemulihan diperkirakan berlangsung secara bertahap dengan penguatan daya beli masyarakat, percepatan investasi, dan kepastian kebijakan sebagai faktor penentu.

Ketua Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Shinta Widjaja Kamdani mengatakan dunia usaha memasuki semester II dengan sikap cautious optimism atau optimisme yang lebih terukur. 

Meskipun tekanan akibat lonjakan harga energi dan biaya logistik mulai mereda dibandingkan saat puncak konflik geopolitik, ketidakpastian global masih membayangi prospek industri.

"Prospek industri pada semester II tetap memiliki peluang untuk membaik dibandingkan semester sebelumnya. Namun, perbaikannya kemungkinan berlangsung secara gradual dan sangat bergantung pada perkembangan kondisi global maupun domestik," kata Shinta kepada Katadata.co.id, Sabtu (11/7).

Eskalasi terbaru di Timur Tengah pada awal Juli menunjukkan risiko geopolitik masih tinggi. Kondisi tersebut membuat pelaku usaha tetap mengutamakan manajemen risiko, memperkuat ketahanan rantai pasok (supply chain resilience), serta lebih berhati-hati dalam mengambil keputusan investasi dan ekspansi.

Di dalam negeri, aktivitas industri juga menunjukkan tanda-tanda moderasi. Purchasing Managers' Index (PMI) manufaktur Indonesia turun menjadi 46,9 pada Juni 2026, level terendah sejak Juni 2025 sekaligus menandakan kontraksi aktivitas manufaktur. Penurunan itu dipicu melemahnya pesanan baru, turunnya permintaan ekspor, serta penyesuaian produksi akibat perlambatan permintaan domestik maupun global.

Tren serupa juga terlihat pada Indeks Kepercayaan Industri (IKI) Kementerian Perindustrian yang turun dari 54,12 pada Januari menjadi sekitar 52,90 pada Juni 2026. Meski masih berada di zona ekspansi, penurunan itu mencerminkan optimisme pelaku usaha yang lebih terukur dibandingkan awal tahun.

Sementara itu, Indeks Penjualan Riil (IPR) Bank Indonesia juga turun dari 226,9 pada April menjadi 223,4 pada Mei, yang mengindikasikan moderasi konsumsi rumah tangga dan turut memengaruhi aktivitas produksi maupun perdagangan.

Di sisi eksternal, tren surplus neraca perdagangan Indonesia yang berlangsung selama enam tahun telah berakhir. Meski defisit pada Mei 2026 terutama dipicu kenaikan impor migas dan neraca nonmigas masih surplus, pelemahan ekspor menunjukkan permintaan global belum sepenuhnya pulih.

Karena itu, Shinta menilai penguatan faktor domestik akan menjadi penopang utama pemulihan industri pada paruh kedua tahun ini.

"Dari sisi domestik, penguatan daya beli masyarakat, percepatan realisasi investasi, keberlanjutan agenda deregulasi, serta terciptanya policy certainty dan iklim usaha yang kondusif akan menjadi kunci untuk memulihkan business confidence," ujarnya.

Sementara itu, Wakil Ketua Umum Koordinator Bidang Organisasi, Komunikasi, dan Pemberdayaan Daerah Kadin Indonesia Erwin Aksa menilai rantai pasok global mulai menunjukkan perbaikan. 

Ketidakpastian yang sebelumnya memicu kenaikan biaya logistik dan kekhawatiran terhadap pasokan energi mulai berkurang sehingga memberi ruang bagi pelaku usaha untuk menyusun kembali rencana produksi dan distribusi.

Meski demikian, menurut Erwin, normalisasi belum berlangsung sepenuhnya karena sejumlah industri masih melakukan penyesuaian kontrak bahan baku, jadwal pengiriman, dan manajemen persediaan sebagai langkah mitigasi terhadap potensi gejolak geopolitik.

Ia menambahkan, momentum perbaikan kondisi global perlu dimanfaatkan untuk memperkuat daya saing industri nasional melalui diversifikasi sumber bahan baku, penguatan rantai pasok domestik, peningkatan efisiensi logistik, serta perluasan pasar ekspor.

"Apabila stabilitas geopolitik terus terjaga, inflasi tetap terkendali, suku bunga mulai lebih kondusif, serta kebijakan pemerintah konsisten mendukung investasi dan industri, kami optimistis aktivitas usaha akan tumbuh lebih baik dibandingkan semester pertama tahun ini," kata Erwin.

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

Reporter: Kamila Meilina