Hadapi Musim Paceklik, Pemerintah Tambah 1 Juta Ton Beras SPHP

ANTARA FOTO/Muhammad Rifki Hasan/bar/YU
Pekerja memikul karung berisi beras Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) ukuran lima kilogram di Pergudangan Tondo, Kota Palu, Sulawesi Tengah, Rabu (19/8/2026).
Penulis: Kamila Meilina
9/9/2026, 10.45 WIB

Pemerintah menambah pasokan beras Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) sebanyak 1 juta ton untuk mengantisipasi penurunan produksi padi selama musim kemarau. Tambahan pasokan tersebut akan disalurkan pada Oktober hingga Desember 2026.

Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan (Zulhas) mengatakan penambahan pasokan beras dilakukan karena kondisi tahun ini berbeda dengan periode yang sama tahun lalu. Menurut dia, musim kemarau tahun ini lebih kering sehingga produksi padi menurun dan pasokan beras di pasar mulai berkurang.

"Tahun ini kering, hampir tidak ada lagi sawah atau petani yang berproduksi. Kita sebut paceklik sehingga tidak ada produksi," kata Zulkifli dalam keterangannya, dikutip Rabu (9/9). 

Dia mengatakan kondisi tersebut mulai mendorong kenaikan harga beras. Kenaikan yang terjadi sejauh ini disebut sekitar Rp100 per kilogram.

Untuk menahan kenaikan harga, pemerintah memutuskan menambah alokasi beras SPHP medium sebanyak 1 juta ton. Sebelumnya, pemerintah telah menetapkan alokasi SPHP medium sebesar 828 ribu ton, yang menurut Zulkifli kini tersisa sekitar 80 ribu ton.

Dengan tambahan tersebut, beras SPHP yang dijual di pasar ditargetkan berada di kisaran Rp12.000 hingga Rp12.500 per kilogram.

"Kita tambah 1 juta ton lagi agar harga yang di pasar, yang naik Rp100 itu, bisa kita turunkan kembali," ujarnya.

Selain menambah pasokan beras SPHP, pemerintah meminta Perum Bulog mempercepat penyaluran bantuan pangan kepada masyarakat penerima manfaat. Bantuan itu menyasar sekitar 33,2 juta penerima pada desil 1 hingga desil 4. Masing-masing penerima mendapatkan beras sebanyak 10 kilogram per bulan selama tiga bulan.

Penyaluran tiga bulan tersebut akan dirapel sehingga penerima memperoleh 30 kilogram beras sekaligus. Pemerintah meminta Bulog menyelesaikan penyaluran tersebut pada September 2026.

"Kita minta Bulog selesaikan dalam bulan ini. Jadi masyarakat menerima sekaligus 30 kilogram," kata Zulkifli.

Bulog Siapkan 150 Ribu Ton Jagung untuk Peternak UMKM

Tekanan pasokan akibat musim kemarau juga terjadi pada komoditas jagung. Zulkifli mengatakan produksi jagung berpotensi turun karena kondisi lahan yang kering.

Untuk mengantisipasi kenaikan harga jagung, pemerintah akan menggunakan stok cadangan jagung pemerintah yang dikuasai Bulog untuk memasok peternak skala UMKM.

Bulog saat ini memiliki sekitar 230 ribu ton stok cadangan jagung pemerintah dari total pengadaan sebanyak 1 juta ton. Dari stok tersebut, sekitar 150 ribu ton akan dialokasikan melalui skema SPHP jagung.

Pasokan tersebut ditujukan untuk peternak kecil dan menengah, bukan untuk industri peternakan skala besar.

"Kita ingin peternak-peternak UMKM tidak terkena dampak kenaikan harga jagung. Musim kemarau membuat produksi turun dan harga naik, sehingga suplai untuk peternak harus kita jaga," ujarnya.

Beras Mutu Turun Bisa Jadi Bahan Baku Tepung

Pemerintah juga menyiapkan langkah untuk merespons kenaikan harga tepung beras. Salah satunya dengan memanfaatkan stok beras yang mengalami penurunan mutu tetapi masih dapat digunakan sebagai bahan baku industri.

Zulkifli mengatakan Kementerian Perindustrian memperkirakan kebutuhan beras untuk bahan baku industri tepung beras mencapai sekitar 380 ribu ton.

Pemerintah kemudian memutuskan beras dengan mutu yang menurun tersebut dapat dilelang dengan harga minimal Rp11.000 per kilogram untuk selanjutnya diolah menjadi tepung beras.

"Beras yang kurang mutu ini bisa dibeli oleh pabrik tepung untuk dijadikan tepung. Jadi kita harapkan kenaikan harga tepung beras juga bisa kita tekan," kata dia.



Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

Reporter: Kamila Meilina