Ketika Stasiun Tak Lagi Jadi Titik Akhir MRT Jakarta

Katadata
Division Head Business Planning and Expansion Division MRT Jakarta R Samuel Ryan Pradipta Pranowo, di Jakarta Pusat, Rabu (9/9)
12/9/2026, 18.34 WIB

Kereta MRT Jakarta tidak hanya membawa penumpang dari satu stasiun ke stasiun lain. Di balik pergerakannya, PT MRT Jakarta (Perseroda) mulai melihat kawasan di sekitar stasiun sebagai bagian penting dari bisnis yang bisa terus dikembangkan.

Perusahaan mulai membidik bisnisnya di luar layanan transportasi dengan mengembangkan kawasan di sekitar stasiun melalui transit-oriented development (TOD) dan konsep placemaking. 

Setelah menghidupkan kembali aktivitas di kawasan Blok M, MRT Jakarta bersiap memperluas pengembangan ke Kota Tua dan Glodok. Pengembangan tersebut akan ditopang pembangunan lintasan MRT menuju kawasan tersebut yang ditargetkan rampung pada akhir 2029.

Division Head Business Planning and Expansion Division MRT Jakarta R Samuel Ryan Pradipta Pranowo mengatakan pengembangan bisnis kawasan dilakukan untuk memastikan kawasan di sekitar stasiun tidak berhenti pada pembangunan fisik, tetapi dapat terus hidup dan menghasilkan aktivitas ekonomi.

"Lalu kami juga mengembangkan bisnis TOD, area di sekitar stasiun, yang salah satunya Blok M tadi. Dan mudah-mudahan segera area Kota Tua, itu akan kami revitalisasi juga," ujar Samuel dalam paparannya bertajuk “Mengembangkan Kawasan sebagai Platform Kolaborasi dan Aktivasi” di Jakarta Pusat, Rabu (9/9). 

Pengembangan kawasan Kota Tua nantinya tetap akan mempertahankan identitas sejarah kawasan. Konsep itu akan dikombinasikan dengan aktivitas retail, komunitas dan kegiatan lainnya sehingga kawasan tetap memiliki daya tarik bagi masyarakat.

"Heritage Chinatown-nya, Little Amsterdam-nya itu tidak hilang, tapi tetap areanya akan dibuat hidup dengan kombinasi retail, komunitas, dan lain sebagainya," katanya.

MRT Jakarta menyebut perubahan itu sebagai bagian dari strategi Business Beyond Normal. Perusahaan tidak hanya mengandalkan bisnis transportasi, tetapi mulai mengembangkan sumber pendapatan lain melalui kawasan TOD, retail, layanan digital, pariwisata, event, hingga kolaborasi dengan komunitas..

Strategi itu mengubah orientasi bisnis MRT Jakarta yang sebelumnya lebih banyak berpusat di dalam stasiun, seperti transportasi, iklan dan retail, menuju ekosistem yang lebih luas di luar stasiun.

Ekosistem tersebut mencakup kemitraan layanan first mile-last mile, revitalisasi kawasan TOD, retail dan tenant, layanan digital dan pembayaran, pariwisata serta berbagai aktivitas gaya hidup dan event. MRT Jakarta juga membuka ruang kolaborasi dengan komunitas dan menawarkan jasa konsultasi perkeretaapian maupun layanan terkait. 

Perluasan bisnis tersebut berjalan seiring dengan pertumbuhan pendapatan perusahaan. PT MRT Jakarta membukukan pendapatan Rp1,5 triliun sepanjang 2025, naik sekitar 7% dibandingkan tahun sebelumnya. Direktur Keuangan dan Manajemen PT MRT Jakarta (Perseroda) Risa Olivia mengatakan pertumbuhan tersebut didorong oleh peningkatan jumlah pengguna MRT serta kontribusi bisnis non-tiket.

Sepanjang 2021-2025, pendapatan MRT Jakarta dari tiket (farebox) mencatat rata-rata pertumbuhan 50,4% per tahun. Sementara itu, secara keseluruhan pendapatan perusahaan tumbuh rata-rata 2,3% per tahun.

Sumber pendapatan MRT Jakarta berasal dari tiket, subsidi pemerintah, serta pendapatan non-farebox. Pengembangan kawasan menjadi salah satu cara perusahaan untuk memperluas sumber pemasukan di luar layanan perjalanan.

Event di Kawasan Bisa Beri Dampak Ekonomi Puluhan Miliar

Pengembangan kawasan tersebut tidak hanya ditujukan untuk menambah sumber pendapatan MRT Jakarta. Perusahaan juga melihat aktivitas di kawasan sebagai penggerak ekonomi yang lebih luas, salah satunya melalui penyelenggaraan berbagai event.

Konsep yang digunakan adalah placemaking. Pendekatan ini tidak sekadar membangun atau mempercantik ruang publik, tetapi menciptakan tempat yang memiliki identitas, aktivitas, dan hubungan dengan masyarakat.

Menurut Samuel, placemaking merupakan pendekatan untuk menciptakan dan mengelola "ruang ketiga", yaitu tempat di luar rumah dan tempat kerja untuk berkumpul dan beraktivitas. Kawasan tersebut harus hidup, terbuka untuk berbagai kalangan, dan melibatkan masyarakat serta pelaku usaha lokal.

Dengan konsep ini, sebuah kawasan diharapkan memiliki "jiwa" sehingga masyarakat tidak hanya datang untuk bertransaksi, tetapi juga ingin menghabiskan waktu dan kembali lagi.

Salah satu contohnya terlihat dari kegiatan ekonomi kreatif dan festival di Blok M. Menurut Samuel, dampak ekonomi dari kegiatan tersebut tidak hanya berasal dari transaksi selama acara, tetapi juga merambat ke aktivitas lain di sekitar kawasan, seperti kuliner, penginapan, dan konsumsi pengunjung.

"Salah satu event festival yang mencakup satu kawasan, kami sudah interpolasi sehingga kurang lebih dampaknya itu sekitar Rp20 miliar sampai Rp30 miliar saat festival itu terjadi," katanya.

Untuk kegiatan dengan skala lebih besar, dampaknya bisa meningkat. Samuel memperkirakan satu event di kawasan Gelora Bung Karno (GBK) dapat menghasilkan dampak ekonomi sekitar Rp70 miliar hingga Rp100 miliar.

Dampaknya berpotensi semakin besar apabila event mampu menarik pengunjung dari luar negeri. Selain belanja selama acara, kedatangan wisatawan mancanegara juga dapat mendorong konsumsi hotel, pusat perbelanjaan, dan berbagai aktivitas lainnya.

"Kalau melibatkan pengunjung dari luar negeri, itu mungkin bisa berlipat lagi efeknya, sekitar Rp200 miliar. Angkanya kurang lebih begitu berdasarkan riset dan data yang ada. Jadi besar sebenarnya buat pendapatan Jakarta," kata Samuel.



Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

Reporter: Kamila Meilina