Garuda Indonesia Cari Pendanaan Tambahan di Tengah Lonjakan Biaya dan Harga BBM
PT Garuda Indonesia Tbk (GIAA) berencana mencari pendanaan berupa tambahan utang dari perbankan, guna memenuhi kebutuhan modal kerja. Hal ini dilakukan seiring lonjakan biaya bahan bakar minyak (BBM) dan perawatan pesawat yang memperbesar kerugian.
Sumber Bloomberg menyatakan Garuda juga mempertimbangkan melakukan lindung nilai (hedging) terhadap biaya bahan bakar. Perusahaan juga akan menggunakan sisa dana pembiayaan sebesar US$ 1,4 miliar atau Rp 25,05 triliun (kurs Rp 17.890 per US$) dalam enam bulan ke depan untuk kebutuhan perawatan pesawat. Dana tersebut diperoleh Garuda dari sovereign wealth fund Danantara
Langkah ini dilakukan Garuda sebab menurut laporan keuangan semester pertama tahun ini kas perusahaan mencapai US$ 624 juta atau Rp 11,17 triliun, sedangkan kewajiban lancarnya mencapai US$ 1,6 miliar atau Rp 28,6 triliun.
“Untuk maskapai dengan skala seperti Garuda, tolok ukur standar industri global adalah mempertahankan cadangan likuid sebesar 20% hingga 25% dari pendapatan tahunan. Idealnya, Garuda memiliki kas tidak terbatas (unrestricted cash) sebesar US$ 720-900 juta (Rp 12,5 triliun-Rp 16,1 triliun) untuk menghadapi potensi guncangan,” kata Managing Director Research PT Samuel Sekuritas Indonesia, Harry Su, seperti dikutip dari Bloomberg, Kamis (8/10).
Menurut Harry, maskapai tersebut perlu mendapatkan tambahan pendanaan dalam tiga hingga enam bulan ke depan karena tingginya biaya bahan bakar dan kerugian yang dialami akan mempercepat penggerusan kas.
Bloomberg menyebut penyelamatan Garuda dinilai penting sebab maskapai tersebut mempekerjakan 10 ribu orang. Pemerintahan Presiden Prabowo Subianto sebelumnya telah mengalihkan kepemilikan saham pemerintah sebesar 65% di Garuda kepada Danantara pada Maret tahun lalu.
Langkah ini diambil untuk membantu maskapai tersebut. Kepemilikan dana tersebut kemudian meningkat menjadi 91% setelah suntikan dana sebesar US$ 1,4 miliar atau Rp 25,05 triliun.
Menurut catatan Bloomberg, Garuda telah menghentikan 40% pengoperasian armadanya tahun lalu. Hal ini akibat keterbatasan pendanaan dan meningkatnya biaya perawatan. Kondisi tersebut diperparah oleh lonjakan harga bahan bakar akibat perang Timur Tengah membuat proses pemulihan maskapai menjadi semakin mahal.
Garuda mencatat kerugian US$ 120,7 juta atau Rp 2,16 triliun pada semester pertama, meskipun pendapatannya meningkat 16% menjadi US$ 1,80 miliar atau Rp 32,2 triliun. Kerugian tersebut membuat ekuitas Garuda mengalami defisit sebesar US$ 52,2 juta atau Rp 934,14 miliar, dari sebelumnya surplus US$ 44,4 juta atau Rp 794,6 miliar pada akhir 2025.
Hingga semester I 2026, Garuda group mengoperasikan 104 pesawat, naik 6 unit dibandingkan tahun lalu yang mencapai 98 pesawat saja. Perusahaan telah menghabiskan US$ 232 juta atau Rp 4,15 triliun untuk perawatan pesawat pada semester pertama tahun ini. Jumlahnya lebih dari tiga kali lipat dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Tantangan Garuda untuk Pulihkan Kondisi Keuangan
Kondisi Garuda menunjukkan berat dan mahalnya jalan yang harus ditempuh maskapai yang masih merugi tersebut untuk memulihkan kondisi keuangan dan bertahan hidup. Terlebih ketika harga minyak berada di kisaran US$ 100 per barel. Kondisi tersebut juga berdampak pada saham perusahaan, yang turun ke level terendah dalam 16 bulan pada pekan ini dan telah anjlok 47% sepanjang tahun ini.
Tak hanya Garuda, maskapai penerbangan lain juga menghadapi tantangan serupa. Maskapai berbiaya rendah AirAsia Group Bhd., juga mencatat kerugian selama dua kuartal berturut-turut, memiliki liabilitas yang lebih besar daripada aset.
Sementara itu, korban terbesar di industri penerbangan sejauh ini adalah maskapai berbiaya rendah asal Amerika Serikat, Spirit Aviation Holdings Inc., yang menghentikan operasionalnya pada Mei di tengah lonjakan harga bahan bakar dan gagalnya upaya penyelamatan melalui bantuan pemerintah.
Prabowo Optimistis Garuda Untung di 2027
Presiden Prabowo Subianto memprediksi maskapai penerbangan BUMN, Garuda Indonesia bakal mulai meraup keuntungan pada 2027.
Prabowo menyebut Garuda telah mengalami kerugian selama bertahun-tahun. BUMN tersebut bahkan disebut hampir pailit dengan kondisi puluhan pesawat mereka di-grounded karena Garuda tidak mampu melakukan perbaikan.
Meski begitu, dia menyebut per Juni 2026 ada 20 pesawat Garuda yang sudah dilakukan aktif beroperasi sehingga jumlah pesawat yang operasikan mencapai 140 unit. Ia bahkan menyebut jika tidak terjadi perang di Timur Tengah, Garuda sudah akan untung pada Juli tahun ini.
“Sekarang kami berharap awal 2027 mereka sudah mulai untung,” kata Prabowo, alam Sidang Tahunan MPR RI & Sidang Bersama DPR RI dan DPD RI, Jumat (14/8).