Terancam Rugi, ini Kata Garuda (GIAA) dan AirAsia (CMPP) Soal Dampak Karhutla
Sejumlah pemain industri maskapai penerbangan PT Garuda Indonesia Tbk (GIAA) dan PT AirAsia Indonesia Tbk (CMPP) buka suara usai terancam mengalami kerugian operasional imbas ribuan penerbangan dalam negeri terdampak kebakaran hutan dan lahan (karhutla) sepanjang 11 Agustus hingga 17 Oktober 2026.
Maskapai pelat merah PT Garuda Indonesia Tbk (GIAA) mengintensifkan langkah mitigasi operasional menyusul dampak karhutla di sejumlah wilayah Indonesia yang berpotensi memengaruhi jarak pandang dan kelancaran penerbangan.
Manajemen Garuda Indonesia terus memantau perkembangan kondisi operasional secara berkala. Manajemen mengatakan sejumlah langkah mitigasi disiapkan, mulai dari penyesuaian jadwal, penundaan keberangkatan, pengalihan ke bandara alternatif (divert), hingga pembatalan penerbangan apabila diperlukan berdasarkan evaluasi risiko dan standar keselamatan yang berlaku.
Garuda Indonesia memastikan keselamatan penumpang dan awak pesawat menjadi fokus dalam mengambil keputusan penyesuaian penerbangan.
“Lebih lanjut, pengambilan keputusan tersebut dilakukan berdasarkan asesmen risiko secara menyeluruh dengan mempertimbangkan kondisi aktual di lapangan dengan melakukan koordinasi intensif bersama pemangku kepentingan penerbangan,” kata manajemen Garuda dalam keterangannya, Senin (19/10).
Garuda juga mengoptimalkan penanganan penumpang terdampak (service recovery) melalui penyampaian informasi jadwal secara berkala, pendampingan layanan, dan fasilitasi alternatif perjalanan, termasuk penjadwalan ulang, maupun pengembalian biaya tiket (refund) sesuai kondisi penerbangan dan ketentuan yang berlaku.
“Seluruh mekanisme penanganan dilaksanakan dengan memperhatikan hak penumpang serta ketentuan regulasi penerbangan yang berlaku,” tulis manajemen.
Di samping itu, Director of Indonesia Affairs & Strategic Communication Indonesia AirAsia, Eddy Krismeidi, mengatakan berdasarkan pemantauan operasional perusahaan, Indonesia AirAsia belum mengalami dampak signifikan terhadap operasional penerbangan akibat kabut asap dari kebakaran hutan dan lahan di Sumatra maupun Kalimantan.
“Kami terus memantau kondisi cuaca dan jarak pandang di bandara tujuan serta berkoordinasi dengan pihak terkait untuk mengantisipasi potensi gangguan operasional,” kata Eddy ketika dihubungi Katadata, Senin (19/10).
Soal dampak terhadap permintaan penerbangan maupun kinerja finansial, Eddy mengatakan perusahaan terus mencermati perkembangan tersebut. Apabila kondisi kabut asap memengaruhi keselamatan penerbangan, kata Eddy, penyesuaian operasional akan dilakukan sesuai prosedur dan ketentuan yang berlaku.
“Keselamatan penumpang dan awak pesawat tetap menjadi prioritas utama kami,” ucap Eddy.
Sebelumnya, sebanyak 2.458 penerbangan berjadwal dalam negeri terdampak kebakaran hutan dan lahan (karhutla) sejak 11 Agustus 2026 hingga 17 Oktober 2026. Kebakaran hutan dan lahan juga menyebabkan sejumlah penerbangan internasional dibatalkan. Jumlah penerbangan dalam negeri yang terdampak karhutla tersebut bertambah 437 penerbangan dari posisi 13 Oktober 2026, yang mencatat 2.021 penerbangan.
Rinciannya,1.080 penerbangan mengalami keterlambatan (delay), 1.324 dibatalkan atau ditunda (cancelled/postponed), 22 dialihkan ke bandar udara lain (divert), 6 kembali ke bandar udara keberangkatan (return to base/RTB), dan 26 dimajukan jadwalnya (advance).
Direktur Jenderal Perhubungan Udara Kementerian Perhubungan (Kemenhub), Lukman F. Laisa, mengatakan pihaknya terus memantau dampak Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) terhadap operasional penerbangan di sejumlah wilayah Indonesia. Asap menurunkan jarak pandang di sekitar bandar udara, sehingga dapat menyebabkan keterlambatan, penundaan, hingga pembatalan penerbangan.
"Setiap keputusan operasional diambil dengan mengutamakan keselamatan," ujarnya melalui siaran pers, Senin (19/10).
Maskapai Merugi
Di samping itu, Sekretaris Jenderal Indonesia National Air Carriers Association (INACA) Bayu Sutanto mengatakan, karhutla membuat maskapai merugi. Hal itu karena penerbangan terganggu dan tidak menghasilkan pemasukan sesuai target.
Di sisi lain, maskapai tetap harus menanggung biaya tetap (fixed cost) dan sebagian biaya variabel (variable cost) meski operasional penerbangan terdampak.
“Yang jelas ya rugi operasional, yang mestinya dapat pendapatan jadi zonk dan fixed cost tetap jalan ada juga sebagian variable cost yang tetap bayar,” kata Bayu ketika dihubungi Katadata.co.id, Senin (19/10).
Bayu mengatakan lokasi paling banyak karhutla yaitu di Kalimantan, Maluku atau Maluku Utara, hingga Sumatera. Ia berharap pemerintah bisa segera menanggapi ancaman tersebut dengan serius, sebab dampaknya tak juga kepada keselamatan penerbangan, melainkan kesehatan warga juga terancam.
“Kalo menyangkut safety kami tidak bisa menekan lagi cost nya, ya berharap karhutlanya bisa dikendalikan dengan cepat,” ucap Bayu.