Kasus Covid-19 Dunia Tembus 100 Juta, Tren Penyebarannya Makin Cepat

ANTARA FOTO/REUTERS/Alkis Konstantinidis/HP/sa.
Seorang dokter dan perawat berbicara dengan seorang wanita tua setelah dia menerima vaksin melawan virus corona (COVID-19) di rumah it Evangelismos, t vaksinasi masyarakat umum dimulai, di Athena, Yunani, Sabtu (16//1/2021).
Penulis: Yuliawati
27/1/2021, 15.40 WIB

Covid-19 menginfeksi 100 juta orang di seluruh dunia setelah 13 bulan virus tersebut ditemukan di Wuhan, Tiongkok. Dengan populasi dunia versi Bank Dunia sebanyak 7,67 miliar orang, menunjukkan sekitar satu dari setiap 76 orang telah terinfeksi virus.

Sejak WHO menetapkan pandemi corona pada Februari 2020, penyebaran kasus corona ini berupaya ditekan lewat berbagai pembatasan. Banyak negara yang melarang perjalanan, menutup sekolah hingga melakukan karantina atau lokcdown. Namun, jumlah kasus terus bertambah yang berdampak pada krisis layanan kesehatan hingga resesi ekonomi.

Pembatasan yang dilakukan sebagian negara tak membendung penyebaran virus corona. Pada 2 April 2020, kasus corona melewati ambang batas 1 juta. Kemudian menjadi 10 juta dalam waktu kurang dari tiga bulan atau 28 Juni 2020.

Pada 7 November 2020, menggelembung menjadi 50 juta kasus yang terkonfirmasi. Sejak itu, trennya meningkat tajam. Pada 10 Januari 2021 jumlah kasus corona menjadi 90 juta dan kurang dari tiga minggu bertambah 10 juta menjadi 100 juta.

Dikutip dari CNN.com, para ahli memperkirakan kasus corona yang sebenarnya lebih banyak dari data yang dipublikasikan. Masih banyak orang yang terinfeksi virus corona namun tak teridentifikasi karena tak melalui proses pengecekan. Begitu juga dengan angka kematian.

Berdasarkan data John Hopkins per Rabu (27/1), tingkat kematian akibat Covid-19 seluruh dunia mencapai 2,15 juta orang. Amerika merupakan negara dengan peringkat kematian tertinggi akibat corona yakni sebanyak 425 ribu orang dengan jumlah kasus positif 25,43 juta.

Kemudian diikuti Brasil dengan jumlah kematian 218 ribu dan kasus terkonfirmasi 10,6 juta. Adapun kematian di India akibat Covid-19 mencapai 153 ribu dari 8,9 juta kasus positif.

Tak hanya di tiga negara tersebut, kasus positif dan kematian terus bertambah di banyak negara. Apalagi dengan munculnya varian baru yang lebih menular dan menyebabkan keprihatinan besar bagi para ilmuwan.

Potensi Melesetnya Target Kekebalan Kelompok


Saat ini program vaksinasi global juga menjadi andalan dalam mengurangi kasus Covid-19. Melansir situs berita Universitas Harvard, Direktur Institusi Nasional Alergi dan Penyakit Infeksi Anthony Fauci mengatakan bahwa vaksinasi menjadi kunci penting dalam mencapai kenormalan gaya hidup sebelum pandemi.

Kekebalan kelompok terhadap Covid-19 akan tercapai apabila  75 %-80% penduduk menerima vaksinasi. Amerika memperkirakan akan mencapai kekebalan kelompok pada akhir 2021. "Jika kita melakukan vaksinasi dengan efisien pada kuartal kedua 2021, maka ketika memasuki kuartal ketiga, kita mungkin sudah perlahan mencapai herd immunity untuk melindungi masyarakat pada akhir 2021,” ujar Fauci.

Studi dari McKinsey juga memproyeksikan bahwa herd immunity di AS dapat diperoleh pada kuartal ketiga atau keempat 2021, tetapi ada peluang mundur hingga kuartal pertama 2022. Bila melebihi waktu itu, tidak mungkin mencapai herd immunity lebih cepat.

Target kekebalan kelompok ini berpotensi meleset setelah Pfizer menyatakan keterlambatannya dalam mengirim pasokan vaksin ke Eropa sebagai pembeli terbesar setelah Amerika dan negara-negara lain.

Pfizer menjelaskan keterlambatan karena perubahan pada proses manufaktur demi mememenuhi permintaan global. Perusahaan farmasi itu bertujuan memproduksi sekitar dua miliar dosis vaksin pada 2021. Adapun AstraZeneca menyebut memangkas pasokan vaksin hingga 60 % ke Uni Eropa akibat permasalahan produksi.

Pelajaran dari Pandemi Sebelum Covid-19

 
Salah satu pandemi yang terburuk sepanjang sejarah manusia adalah pandemi Flu Spanyol pada 1918. Menurut situs National Geographic, pandemi ini terjadi selama kurun 1918-1920.

Melansir Badan Pusat Kontrol Wabah Penyakit AS (CDC), Flu Spanyol diperkirakan menginfeksi 500 juta orang atau sepertiga populasi dunia saat itu. Total kematian kira-kira sebanyak 50 juta orang.

Berdasarkan situs WHO, terdapat beberapa kesamaan antara Covid-19 dengan Flu Spanyol. Pertama, keduanya sama-sama menyebabkan penyakit pernapasan, dengan gejala yang ringan sampai menyebabkan kematian. Kedua, kedua virus ditransmisikan melalui kontak, droplets, dan pembawa (carrier) virus.

Protokol kesehatan yang diterapkan saat ini pun mengacu pada penanganan Flu Spanyol. Pencegahan Flu Spanyol dan Covid-19 hampir sama yakni menggunakan masker, mencuci tangan, dan menjaga jarak.

Namun terdapat beberapa perbedaan antara Flu Spanyol yang disebabkan oleh virus influenza A H1N1 dengan Sars-Cov-2. Melansir WHO, masa interval serial Covid-19 yang lebih panjang dari H1N1. Serial interval Covid-19 diestimasikan selama 5-6 hari, sedangkan Influenza selama tiga hari saja. Itu artinya, penyebaran Influenza A sebenarnya lebih cepat dari Covid-19.

Meski demikian, WHO menilai bahwa tingkat keparahan kasus Covid-19 lebih tinggi dari infeksi Influenza A pada saat itu. WHO juga menilai angka kematian Covid-19 lebih tinggi dari Influenza. Pasalnya, rasio kematian kasar Covid-19 berada pada angka 3-4 persen, sedangkan Influenza memiliki tingkat kematian 0,1 persen.

Akan tetapi, tingkat kematian ini dipengaruhi oleh kualitas layanan kesehatan yang diperoleh. Pada tahun itu, tidak ada program vaksinasi maupun antibiotik untuk menyembuhkan pasien. Itu sebabnya, peningkatan layanan kesehatan hari ini bisa berdampak baik pada penahahan angka kematian dan laju kasus.

Dikutip dari National Geographic, pandemi Flu Spanyol berakhir dengan upaya protokol kesehatan, meski tidak ada vaksinasi. Epidemolog asal Universitas Kolomia Stephen S. Morse mengatakan bahwa jika masyarakat memperhatikan protokol kesehatan, hal ini dapat menolong kita mengulangi kesalahan sejarah yang sama.

Selain Covid-19 dan Flu Spanyol, beberapa pandemi lainnya berdampak secara global. Melansir History, beberapa pandemi besar seperti HIV/AIDS, Black Death, dan Wabah Justinian menelan korban jutaan jiwa. Wabah HIV/AIDS tercatat sudah menyebabkan 35 juta kematian.

Melansir National Geographic, wabah Black Death merupakan wabah yang menyerang Eropa pada 1347 dan membunuh 25 juta. Wabah ini merupakan cikal bakal lahirnya penerapan isolasi. Melansir History, seseorang dapat dikarantania hingga 30 hari sehabis bepergian.

Selanjutnya, pernah muncul pandemi Justinian yang terjadi pada 541 di Constatinople, Ibukota Kerajaan Byzantine. Pada masa itu, membunuh sekitar 30-50 juta orang setara separuh dari total populasi manusia di bumi saat itu.

Menurut Professor Sejarah di Universitas DePaul Thomas Mockaitis, saat itu tidak ada cara untuk melawan wabah tersebut selain menghindar dari orang yang sakit. Mereka yang bertahan hidup tidak diketahui bagaimana caranya dapat memperoleh imunitas.

Penyumbang bahan: Ivan Jonathan