Lima Eks Tahanan Teroris Guantanamo Diangkat Jadi Pejabat Taliban

ANTARA FOTO/REUTERS/Stringer/aww/cf
Juru bicara Taliban Zabihullah Mujahid berbicara saat konferensi pers di Kabul, Afganistan, Senin (6/9/2021).
Penulis: Yuliawati
8/9/2021, 16.52 WIB

Taliban mengumumkan kabinet pemerintahan sementaranya pada Selasa (7/9). Di antara seluruh pejabat kabinet, lima di antaranya adalah mantan tahanan Amerika Serikat yang sempat dikurung di penjara Guantanamo dalam kasus terorisme.

Kelima orang tersebut adalah Noorullah Noori yang menjabat menteri perbatasan dan urusan suku, Abdul Haq Wasiq sebagai pejabat direktur intelejen, Khairullah Khair sebagai menteri informasi dan kebudayaan, Mohammad Fazil Mazloom sebagai wakil menteri pertahanan, dan Mohammed Nabi Omari sebagai gubernur Provinsi Khost.

Orang-orang yang pernah ditahan di penjara Guantanamo adalah orang dengan riwayat keterlibatan kelompok terorisme. Amerika menangkap mereka di Afganistan, Irak, dan lainnya.

CNN Internasional menyebut jajaran kabinet Taliban selain diisi mantan tahanan Guantanamo, juga merupakan anggota kelompok terorisme yang masuk ke dalam daftar sanksi internasional.

Perdana Menteri Taliban Mohammad Hassan Akhund saat ini berada di bawah sanksi Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Selain Akhund, dua pejabat berlatar belakang sebagai anggota jaringan terorisme Haqqani, yang berafiliasi dengan Al-Qaeda.

Taliban mengangkat pemimpin Haqqani, Sirajuddin Haqqani - buronan FBI yang dihargai US$ 10 juta. Satu lagi adalah Khalil Haqqani yang ditunjuk sebagai menteri urusan pengungsi, yang juga buronan FBI yang dihargai US$ 5 juta.

Juru bicara Taliban Zabihullah Mujahid mengatakan kabinet yang terbentuk akan mengutamakan kepentingan Afganistan. “Kami mewakili seluruh Afganistan, kami berbicara pada tingkat seluruh Afganistan, dan perjuangan kami didasarkan pada seluruh Afganistan. Kami bukan orang dari satu suku atau etnis,” ujar Mujahid, dikutip dari CNN Internasional, Rabu (8/9).



Menanggapi susunan pemerintahan tersebut, Presiden AS Joe Biden menganggap Taliban sudah lebih baik. Senator Partai Republik, Ben Sasse, mengkritik pandangan Biden. “Presiden Biden masih berpegang teguh pada fantasi bahwa Taliban lebih baik dan lebih lembut, itu omong kosong,” kata Ben, dikutip dari Foxnews, Rabu (8/9).

Afganistan hingga kini masih mencari pengakuan dan bantuan internasional. Banyak negara yang masih melihat perkembangan kebijakan pimpinan Taliban di Afganistan. 

Sebagian warga Afganistan takut akan pemerintahan baru dan terus berdemonstrasi sejak pengambilalihan Taliban. Pada hari Selasa, ketika pemerintah baru diumumkan, sekelompok perempuan Afghanistan di jalan Kabul berlindung setelah orang-orang bersenjata Taliban menembak ke udara untuk membubarkan ratusan pengunjuk rasa.

Terakhir kali Taliban memerintah Afganistan, anak perempuan tidak bisa bersekolah dan perempuan dilarang bekerja dan bersekolah. Polisi agama akan mencambuk siapa pun yang melanggar aturan dan eksekusi publik dilakukan

 Penyumbang bahan: Akbar Malik